NPL Bank Mandiri Tembus 0,98% di Semester I-2026, Kredit Tumbuh Dua Kali Lipat Industri
Baca dalam 60 detik
- Rasio kredit macet Bank Mandiri turun ke 0,98% pada akhir Juni 2026, terendah dalam beberapa tahun terakhir.
- Pertumbuhan kredit 19,9% yoy diiringi perbaikan loan at risk dan special mention loan, menunjukkan ekspansi yang prudent.
- Dengan cost of credit 0,52%, bank pelat merah ini optimistis menjaga kualitas aset sambil mendorong ekonomi nasional.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. berhasil mempertahankan tren perbaikan kualitas aset di tengah agresivitas penyaluran kredit. Pada semester pertama 2026, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank pelat merah ini turun 10 basis poin secara tahunan menjadi 0,98%โlevel yang jarang dicapai oleh bank besar di Indonesia.
Penurunan NPL tersebut tidak berdiri sendiri. Direktur Risk Management Bank Mandiri, Danis Subyantoro, mengungkapkan bahwa rasio loan at risk (LAR) juga mencatatkan perbaikan signifikan, turun 1,13 poin persentase menjadi 5,93% pada kuartal II-2026. Sementara itu, rasio kredit dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) menyusut 5,3 basis poin ke level 2,89%. "Komitmen Bank Mandiri pada kualitas aset yang sehat tercermin dari rasio LAR yang terus membaik dari tahun ke tahun. Penurunan ini juga sejalan dengan perbaikan rasio SML," ujar Danis dalam paparan kinerja, Kamis (23/7/2026).
Perbaikan indikator risiko ini menjadi penting mengingat Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 19,9% secara tahunan menjadi Rp1.592 triliunโhampir dua kali lipat rata-rata industri perbankan nasional. Ekspansi kredit yang agresif kerap diikuti oleh peningkatan risiko kredit macet, namun Bank Mandiri membuktikan sebaliknya. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis tetap dijalankan secara prudent dengan menjaga kualitas aset. "Kinerja dan fundamental solid tersebut membuat kami optimistis Bank Mandiri dapat menghadirkan kontribusi yang positif, sehat, dan signifikan dalam memperkuat sekaligus mendorong ekonomi nasional yang berkelanjutan," katanya.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17,1% secara tahunan, juga melampaui rata-rata industri. Pertumbuhan DPK yang solid memberikan ruang bagi bank untuk terus menyalurkan kredit tanpa tekanan likuiditas yang berarti. Namun, yang lebih menarik adalah kemampuan Bank Mandiri menjaga biaya risiko (cost of credit) tetap rendah di angka 0,52%. Angka ini mencerminkan pencadangan yang kuat dan manajemen risiko yang efektif, sehingga laba tidak tergerus oleh provisi yang membengkak.
Bagi investor dan pelaku pasar, capaian ini menegaskan posisi Bank Mandiri sebagai salah satu bank dengan kualitas aset terbaik di Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan suku bunga, kemampuan bank untuk menjaga NPL di bawah 1% sambil mencatat pertumbuhan kredit dua digit menjadi sinyal positif. Pertanyaannya, apakah tren ini dapat bertahan hingga akhir tahun mengingat risiko perlambatan ekonomi domestik dan potensi kenaikan kredit bermasalah di sektor-sektor tertentu? Bank Mandiri tampaknya telah menyiapkan bantalan yang memadai, namun dinamika makroekonomi tetap menjadi variabel yang perlu dicermati.



