Klub Sepak Bola Inggris Didorong Bayar Polisi: Beban Wajib Pajak Capai Rp1,4 Triliun per Musim
Baca dalam 60 detik
- Insiden di pertandingan sepak bola Inggris dan Wales musim lalu mencapai rekor tertinggi 1.644 kasus, namun jumlah penangkapan justru menurun.
- Polisi menuntut klub-klub kaya raya ikut menanggung biaya pengamanan di luar stadion yang selama ini ditanggung wajib pajak hingga ยฃ70 juta per musim.
- Data menunjukkan 99,4% pelanggar adalah pria, dengan West Ham dan Manchester City sebagai klub dengan jumlah pelanggar terbanyak.

Wajib pajak di Inggris menanggung beban hingga ยฃ70 juta atau sekitar Rp1,4 triliun per musim untuk biaya kepolisian di pertandingan sepak bola, sementara klub-klub multimiliar poundsterling tidak mengeluarkan sepeser pun untuk pengamanan di luar stadion. Kepala Kepolisian Sepak Bola Inggris, Mark Roberts, menegaskan model yang berlaku saat ini tidak bisa diteruskan.
Data dari Home Office yang dirilis Kamis lalu mencatat 1.644 insiden di pertandingan Liga Inggris dan Wales musim 2025-26 โ angka tertinggi sejak unit kepolisian sepak bola mulai mengumpulkan data pada 2017-18. Dari jumlah itu, 159 insiden tergolong "berat", naik dari 106 musim sebelumnya. Namun, jumlah penangkapan justru turun 2% menjadi 1.963 kasus, menandakan efektivitas pendekatan polisi.
Roberts menekankan bahwa kejahatan terkait sepak bola tidak berhenti begitu penggemar meninggalkan stadion. "Klub-klub dengan nilai miliaran pound tidak membayar sepeser pun untuk polisi di luar lapangan mereka. Ini tidak bisa dibiarkan," ujarnya. Ia mendesak klub untuk berkontribusi lebih besar dalam biaya pengamanan pertandingan.
Geoff Pearson, profesor hukum dari Universitas Manchester yang meneliti perilaku massa, tidak melihat lonjakan insiden sebagai alarm. Menurutnya, peningkatan itu bisa disebabkan oleh sistem pencatatan yang lebih baik oleh klub. "Jika insiden berat naik 50%, saya akan khawatir, tetapi kekerasan justru turun. Polisi Inggris layak dipuji karena mempertahankan praktik baik mereka," katanya. Pearson menambahkan bahwa kepolisian sepak bola Inggris menjadi acuan dunia.
Data juga menunjukkan 405 kejahatan kebencian daring terkait sepak bola, naik dari 234 musim sebelumnya. Sebanyak 387 di antaranya terjadi di sepak bola pria, dan 18 di sepak bola wanita. Pelanggaran terbanyak adalah gangguan ketertiban umum (38%), kekerasan (19%), dan kepemilikan narkoba kelas A (17%).
West Ham United mencatat jumlah larangan masuk stadion tertinggi untuk tiga musim beruntun, yakni 121 orang. Manchester City memimpin jumlah suporter yang ditangkap atau dikenai tindakan polisi lain dengan 102 kasus. Sementara Manchester United mencatat penurunan penangkapan terbesar โ dari 121 menjadi 67 โ namun tetap berada di peringkat ketiga.
Dalam konteks Piala Dunia 2026, sebanyak 22 suporter Inggris ditangkap di Amerika Serikat dan Meksiko, naik dari nol di Qatar 2022 dan tiga di Rusia 2018. Unit kepolisian memuji perilaku suporter di luar negeri, namun di dalam negeri terjadi 2.322 insiden dan 391 penangkapan terkait Piala Dunia, dengan 93% insiden terjadi saat laga Inggris. Kekerasan dalam rumah tangga menyumbang 17% dari seluruh insiden di Inggris.
Bagi Indonesia, data ini menjadi pelajaran berharga. Dengan maraknya sepak bola dan potensi kerusuhan suporter, model pembiayaan pengamanan yang adil antara klub dan negara patut dipertimbangkan. Apakah klub-klub Indonesia, yang juga memiliki pendapatan besar dari hak siar dan sponsor, akan bersedia berbagi beban biaya keamanan demi meringankan anggaran negara?



