Andoni Iraola Buka Suara: Ada Klub Lain Sebelum Liverpool, Filsafat Basque Jadi Modal
Baca dalam 60 detik
- Andoni Iraola mengaku telah berkomunikasi dengan beberapa klub sebelum akhirnya menerima tawaran Liverpool sebagai manajer baru.
- Pelatih asal Basque ini melihat kesamaan antara etos Athletic Club dan Liverpool, terutama soal rasa memiliki dan semangat kolektif.
- Kehadiran empat pelatih Basque di Premier League musim lalu menunjukkan dominasi filosofi sepak bola kolektif asal Spanyol.

Andoni Iraola secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah klub sebelum akhirnya memutuskan untuk menangani Liverpool. Pelatih asal Spanyol berusia 44 tahun itu resmi menggantikan Arne Slot yang dipecat pada akhir Mei setelah Liverpool gagal bersaing di papan atas Premier League.
Iraola, yang sebelumnya menangani Bournemouth selama tiga musim, mengaku proses perekrutan berlangsung cepat. "Saya memang sedang berbicara dengan beberapa klub. Liverpool menghubungi saya pada pekan pertama atau kedua setelah musim berakhir, dan saya tidak butuh waktu lama untuk mengatakan ya," ujarnya dalam konferensi pers di Chicago, Jumat (14/7). Keputusan Liverpool memecat Slot diambil setelah The Reds finis di peringkat kelima Premier League dan mencatat rekor kekalahan terbanyak klub dalam satu musim, yakni 20 kekalahan di semua kompetisi.
Kedatangan Iraola diharapkan dapat mengembalikan gaya sepak bola menyerang yang menjadi identitas Liverpool. Dalam sesi perkenalannya pekan lalu, ia berjanji akan memberikan tim yang bisa dibanggakan para pendukung. Saat ini Liverpool tengah menjalani tur pramusim di Amerika Serikat dengan agenda pertandingan persahabatan melawan Sunderland, Wrexham, dan Leeds United.
Menariknya, Iraola melihat banyak kemiripan antara Liverpool dan Athletic Club, klub masa kecilnya yang berbasis di wilayah Basque, Spanyol. Athletic Club dikenal dengan kebijakan unik yang hanya memainkan pemain kelahiran atau didikan Basque. "Ini klub yang sangat istimewa. Anda harus memaksimalkan setiap pemain yang ada, tidak bisa menjual dan memilih yang lain. Sebagai pemain, Anda harus memberi ekstra. Satu-satunya cara agar kebijakan itu berhasil adalah jika Anda memberi 100 persen. Ini menciptakan koneksi dan mereka memenangkan banyak hal, tidak pernah terdegradasi," jelas Iraola.
Iraola menekankan bahwa rasa kebersamaan menjadi kunci keberhasilan pelatih asal Basque di panggung global. Selain dirinya, ada Mikel Arteta (Arsenal), Unai Emery (Aston Villa), dan Xabi Alonso (Bayer Leverkusen) yang kini bersinar. "Mereka bertanya mengapa banyak manajer Basque mencapai level ini. Saya selalu menjawab bahwa rasa kolektif sangat penting. Spanyol tidak pernah memiliki atlet individu terbaik, tetapi dalam olahraga tim seperti sepak bola, bola basket, handball, mereka selalu unggul. Kami selalu mengutamakan tim," tuturnya.
Ia mencontohkan Rodri, gelandang Manchester City yang menjadi pemain terbaik Piala Dunia 2022 tanpa mencetak gol atau assist. "Tim adalah yang utama, itu sudah tertanam dalam cara kami dibesarkan." Iraola juga menepis anggapan bahwa sepak bola Spanyol hanya soal tiki-taka. "Pada Piala Dunia, Anda bisa melihat mereka menekan dengan sangat baik, tinggi, dan proaktif tanpa bola. Itu yang membuat mereka sukses."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga. Dominasi pelatih Basque menunjukkan bahwa filosofi kolektif dan pengembangan pemain lokal dapat bersaing di level tertinggi. Di tengah gencarnya naturalisasi pemain di Indonesia, pendekatan seperti Athletic Club yang mengandalkan pemain asli daerah justru bisa menjadi alternatif untuk membangun identitas tim yang kuat. Pertanyaannya, mampukah klub-klub Indonesia mengadopsi semangat "tim di atas segalanya" seperti yang ditanamkan Iraola?



