IHSG Tembus 6.400 Usai BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Justru Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 1% pada Kamis (23/7) pagi, menembus level 6.400 setelah Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan.
- Penguatan bursa saham terjadi di tengah pelemahan rupiah yang menyentuh Rp17.895 per dolar AS, serta kenaikan harga komoditas akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
- Keputusan BI mempertahankan suku bunga dinilai sebagai langkah antisipatif menjaga stabilitas, namun tekanan eksternal masih membayangi prospek pasar keuangan Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 6.400 pada perdagangan Kamis (23/7) pagi, menguat 1,12% ke posisi 6.405 dalam sepekan terakhir. Momentum ini terjadi sehari setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 6,25%, sinyal bahwa otoritas moneter masih fokus pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi.
Penguatan IHSG pagi ini cukup signifikan, didorong oleh aksi beli di sektor perbankan dan infrastruktur. Namun, penguatan bursa saham tidak diikuti oleh penguatan rupiah. Mata uang Garuda justru melemah ke level Rp17.895 per dolar AS, mendekati titik terlemah dalam beberapa bulan terakhir. Pelemahan rupiah ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian global.
Di sisi lain, harga komoditas global ikut bergerak naik. Minyak mentah, emas, dan perak mencatatkan kenaikan seiring memanasnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik yang belum mereda antara Israel dan Hamas, serta ketegangan di Laut Merah, mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Kenaikan harga emas menjadi sentimen positif bagi saham-saham tambang di dalam negeri, yang turut mendongkrak IHSG.
Bagi investor Indonesia, keputusan BI menahan suku bunga memberikan kepastian jangka pendek. Namun, pelemahan rupiah tetap menjadi risiko utama. Analis menilai bahwa selama dolar AS masih perkasa dan ketegangan geopolitik belum mereda, rupiah berpotensi terus tertekan. Hal ini bisa membebani kinerja emiten yang memiliki utang dalam dolar atau yang bergantung pada impor bahan baku.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi AS dan pidato pejabat Federal Reserve untuk mencari petunjuk arah suku bunga global. Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham Indonesia bisa semakin besar. Pertanyaannya, mampukah IHSG bertahan di atas 6.400 jika arus modal asing mulai keluar?



