Perang Tarif AS-Kanada Memanas: Carney dan Trump Sepakat Percepat Negosiasi
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Presiden AS Donald Trump sepakat mempercepat negosiasi perdagangan setelah AS memberlakukan tarif 50% untuk sebagian besar barang Kanada.
- Tarif baru ini, yang berlaku 30 hari sejak 21 Juli, mengecualikan energi dan mineral kritis namun mencakup produk yang sebelumnya dilindungi USMCA, memicu kekhawatiran inflasi dan keretakan hubungan bilateral.
- Ekonom memperkirakan tarif hanya memengaruhi 5% ekspor Kanada ke AS atau sekitar 0,8% PDB Kanada, namun provinsi-provinsi Kanada merespons dengan larangan penjualan alkohol AS dan retorika keras.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengumumkan bahwa ia dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepakat untuk mengintensifkan negosiasi kesepakatan dagang antara Kanada, AS, dan Meksiko, sehari setelah Trump mengumumkan tarif 50% untuk sebagian besar barang Kanada. Langkah ini memicu ketegangan baru di antara dua negara yang sebelumnya memiliki hubungan erat.
Tarif tersebut, yang dijadwalkan berlaku 30 hari sejak Senin lalu, merupakan respons Trump terhadap tuduhan bahwa Kanada mendiskriminasi produk otomotif, alkohol, dan susu AS. "Saya berbicara pagi ini dengan presiden AS dan kami sepakat untuk memperdalam serta mempercepat negosiasi dalam beberapa minggu ke depan," ujar Carney di Ottawa. Ia menegaskan Kanada akan melakukan segala yang diperlukan untuk melindungi lapangan kerja, pekerja, petani, serta memperkuat kemandirian dan ketahanan negara.
Kebijakan ini berpotensi memicu kekacauan ekonomi baru, termasuk risiko inflasi yang lebih tinggi dan memburuknya hubungan bilateral. Seorang pejabat pemerintahan AS menyatakan bahwa Kanada, bersama China, adalah salah satu dari sedikit negara yang membalas tarif Trump sebelumnya, sehingga harus dimintai pertanggungjawaban.
Tarif 50% ini mengecualikan produk energi, potas, ikan, dan mineral kritis, tetapi mencakup barang-barang yang sebelumnya dilindungi oleh Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA) yang tidak diperpanjang oleh AS. Negosiasi baru diperkirakan berlangsung hingga 2036. Ekonom Kanada menilai tarif ini lebih sempit dari perkiraan awal, hanya memengaruhi sekitar 5% ekspor Kanada ke AS. Robert Kavcic, ekonom senior Bank of Montreal, memperkirakan tarif mencakup sekitar CAD 28 miliar (USD 19,8 miliar) per tahun, setara 0,8% ekonomi Kanada. Sektor kimia, plastik, elektronik, dan peralatan industri menjadi sasaran utama, diikuti barang konsumen dan produk kehutanan.
Reaksi para perdana menteri provinsi Kanada sangat keras. Perdana Menteri British Columbia David Eby menyebut pendekatan Trump "semakin putus asa" dan menyatakan tidak ada kemungkinan alkohol AS kembali ke rak di provinsinya. "Jika Anda tidak bisa berteman dengan Kanada, hampir pasti Anda tidak punya teman di mana pun di dunia," ujarnya. Perdana Menteri Saskatchewan Scott Moe menekankan bahwa tarif merugikan kedua negara dan tidak membuat ekonomi Amerika Utara lebih kompetitif. Sementara itu, Perdana Menteri Ontario Doug Ford mendesak Kanada untuk lebih agresif: "Kami harus berdiri menghadapi pengganggu, dan membalasnya tarif demi tarif."
Trump, dalam pernyataannya di Kantor Oval, mengaku mencintai rakyat Kanada tetapi mengklaim negara itu membutuhkan AS untuk bertahan. Ia juga mengaitkan tarif dengan pengelolaan hutan Kanada yang dinilainya buruk, meskipun para ahli membantah klaim tersebut. Sengketa juga dipicu oleh larangan delapan provinsi Kanada terhadap penjualan alkohol AS, yang menurut Carney sepenuhnya menjadi kewenangan provinsi.
Bagi Indonesia, ketegangan dagang ini menjadi pengingat akan risiko fragmentasi ekonomi global dan pentingnya diversifikasi mitra dagang. Sebagai negara yang juga kerap menghadapi tekanan tarif AS, Indonesia dapat belajar dari strategi Kanada yang mengombinasikan negosiasi dengan tekanan balik. Ke depannya, apakah eskalasi ini akan berujung pada kesepakatan baru atau justru perang dagang berkepanjangan? Jawabannya akan menentukan arah ekonomi kawasan dan stabilitas rantai pasok global.



