Pusat Kelaparan Global Bergeser ke Afrika: 309 Juta Jiwa Terancam
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, Afrika menyalip Asia sebagai benua dengan jumlah penduduk kelaparan terbanyak, mencapai 309 juta orang pada 2024.
- Meski proporsi kelaparan global menurun, Afrika justru mengalami peningkatan sejak 2017, diperparah konflik dan perubahan iklim.
- Dua pertiga penduduk Afrika tidak mampu membeli makanan bergizi, lebih dari dua kali lipat angka di Asia, mendorong seruan transformasi sektor pangan.

Afrika untuk pertama kalinya menyalip Asia sebagai benua dengan jumlah penduduk paling banyak yang menghadapi kelaparan, menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa. Data yang dirilis Selasa (21/7) itu menempatkan 309 juta orang di Afrika—atau 20 persen dari total populasi benua—dalam kondisi kekurangan gizi, menggeser Asia yang selama bertahun-tahun menjadi episentrum kerawanan pangan global.
Laporan tahunan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama empat badan PBB lainnya mencatat bahwa meskipun secara global proporsi penduduk yang kelaparan menurun dari 8,6 persen pada 2022 menjadi 7,8 persen pada 2025, kemajuan itu tidak merata. Asia, yang sebelumnya mendominasi angka kelaparan, kini mencatat 292 juta jiwa atau sekitar 6 persen populasinya—jauh lebih rendah secara proporsional dibanding Afrika.
“Pusat gravitasi kelaparan telah bergeser dari Asia ke Afrika,” ujar David Laborde, Direktur Divisi Ekonomi Agrifood FAO, kepada AFP. Ia mencontohkan bagaimana China berhasil mengatasi masalah kelaparan dalam 25 tahun terakhir, sementara India masih berupaya keras menekan angkanya. Namun, Afrika justru mengalami tren sebaliknya: prevalensi kekurangan gizi terus meningkat sejak 2017, meskipun ada tanda-tanda perbaikan pada 2025.
Laporan tersebut menyoroti bahwa kemampuan membeli makanan bergizi di Afrika justru menurun sejak 2021, berbanding terbalik dengan kawasan lain. Dua pertiga penduduk Afrika—atau 66,6 persen—tidak mampu mengakses pola makan sehat, lebih dari dua kali lipat angka di Asia. FAO mendorong negara-negara Afrika untuk memprioritaskan transformasi sektor pangan berbasis hewani, yang menjadi kelompok pangan termahal di kawasan tersebut.
Faktor iklim dan konflik memperparah situasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Afrika dilanda guncangan iklim ekstrem seperti banjir dan kekeringan yang merusak lahan pertanian. Konflik bersenjata, terutama di Sudan dan Republik Demokratik Kongo, membuat jutaan orang kehilangan akses ke lahan dan sumber pendapatan. “Konflik seperti di Sudan dan Kongo sangat membebani mereka yang tidak bisa mengakses lahan atau kehilangan penghasilan,” kata Laborde. PBB sebelumnya memperingatkan bahwa 20 juta orang di Sudan menghadapi kerawanan pangan akut akibat perang saudara.
Bagi Indonesia, pergeseran pusat kelaparan ke Afrika membawa implikasi strategis. Sebagai negara yang pernah mengalami krisis pangan dan kini berupaya memperkuat ketahanan pangan nasional, Indonesia dapat belajar dari pengalaman Asia yang berhasil menekan angka kelaparan. Di sisi lain, lonjakan permintaan pangan global akibat krisis di Afrika berpotensi mempengaruhi harga komoditas pangan dunia, termasuk beras dan gandum yang diimpor Indonesia. Pemerintah perlu mewaspadai dampak tidak langsung dari konflik dan perubahan iklim di Afrika terhadap stabilitas pasokan pangan domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara Afrika mampu mengulang sukses Asia dalam mengentaskan kelaparan, atau justru krisis yang lebih dalam akan memicu gelombang migrasi dan ketidakstabilan baru. Tanpa intervensi yang terfokus pada transformasi sistem pangan dan resolusi konflik, angka 309 juta jiwa itu mungkin hanya awal dari babak baru krisis kemanusiaan global.



