Kapal Tenggelam di Sulawesi: Lima Penumpang Selamat Setelah Tiga Hari Terombang-ambing
Baca dalam 60 detik
- Lima korban selamat, termasuk anak perempuan tujuh tahun, ditemukan setelah kapal yang membawa 78 orang tenggelam di perairan Selayar.
- Para penyintas bertahan dengan rakit darurat dari jeriken dan gabus, serta mengandalkan mi instan dan biskuit selama tiga hari tanpa pasokan cukup.
- Perbedaan mencolok antara manifes dan jumlah penumpang aktual kembali menjadi sorotan, menyoroti lemahnya penegakan standar keselamatan di Indonesia.

Lima orang penumpang kapal yang tenggelam di perairan timur Indonesia, termasuk seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, berhasil diselamatkan setelah terombang-ambing di laut selama tiga hari. Peristiwa ini kembali mengungkap celah keselamatan pelayaran di Indonesia yang kerap menimbulkan korban jiwa.
Kapal yang membawa lebih dari 70 orang itu tenggelam pada Rabu lalu saat berlayar di dekat Selayar, sebuah pulau kecil di selatan Sulawesi. Tim penyelamat setempat mengonfirmasi bahwa jumlah aktual penumpang mencapai 78 orang, jauh melampaui manifes resmi yang hanya mencatat 50 orang. Perbedaan ini menjadi pola umum di Indonesia, di mana data manifes sering tidak akurat, memperparah risiko saat terjadi kecelakaan.
Kelima penyintas merupakan bagian dari kelompok 25 orang yang sebelumnya dilaporkan hilang. Mereka terpisah dari rombongan akibat angin kencang. Menurut Muhammad Arif Anwar, pejabat badan pencarian dan pertolongan setempat, para korban selamat menggunakan peralatan seadanya untuk bertahan hidup. "Mereka merakit jeriken dan potongan gabus yang diikat dengan tali, lalu naik ke atasnya," ujarnya.
Para penyintas ditemukan pada Sabtu sore oleh nelayan setempat yang segera melaporkan ke petugas. Kondisi mereka lemah dan kelelahan setelah berhari-hari tanpa makanan dan air yang cukup. Namun, mereka mampu bertahan dengan bekal mi instan dan biskuit yang dibawa saat kapal tenggelam. Tim penyelamat masih mengerahkan lima kapal besar, satu pesawat intai, dan satu helikopter untuk mencari korban lainnya yang belum ditemukan.
Kecelakaan kapal di Indonesia bukanlah hal baru. Lemahnya standar keselamatan, kurangnya pengawasan, dan cuaca buruk menjadi faktor utama yang sering disebut. Pada Januari lalu, tiga turis Spanyol tewas ketika kapal mereka tenggelam di perairan timur Indonesia. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun masih dinyatakan hilang setelah pencarian resmi dihentikan. Kasus ini menegaskan bahwa masalah keselamatan pelayaran di Indonesia masih jauh dari kata tuntas.
Pertanyaan besar yang mengemuka adalah: akankah insiden ini mendorong perbaikan nyata dalam penegakan aturan keselamatan dan akurasi manifes, atau akan kembali menjadi catatan tragis yang terlupakan?



