IHSG Sesi I Berbalik Arah: Saham Bank Jumbo Jadi Penopang di Tengah Tekanan Sektoral
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup naik 0,55% ke 6.141,9 pada akhir sesi I setelah dibuka melemah, ditopang oleh lonjakan saham perbankan jumbo.
- Sektor finansial menjadi satu-satunya sektor yang menguat, sementara sektor lain tertekan; empat bank besar menyumbang hampir 20 poin indeks.
- Sentimen positif datang dari data investasi domestik yang impresif dan peresmian proyek gas Blok Masela, namun pasar masih mencerna data tenaga kerja AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses membalikkan arah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat (17/7/2026), ditutup menguat 0,55% ke level 6.141,9 setelah sempat terpuruk di zona merah pada awal perdagangan. Pergerakan ini menunjukkan ketahanan pasar modal Indonesia di tengah tekanan sektoral yang masih meluas.
Sepanjang sesi I, IHSG bergerak fluktuatif dalam rentang 6.079,32 hingga 6.153,16. Volume transaksi tercatat cukup aktif dengan nilai Rp6,93 triliun dari 10,59 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,09 juta kali transeksi. Sebanyak 321 saham berhasil naik, sementara 286 saham melemah dan 358 saham stagnan.
Faktor utama di balik pembalikan arah ini adalah aksi beli besar-besaran pada saham emiten perbankan jumbo. Bank Mandiri (BMRI) melesat 3,25%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 3,15%, Bank Negara Indonesia (BBNI) menguat 2,57%, dan Bank Central Asia (BBCA) terapresiasi 2,41%. Keempat bank ini nyaris berkontribusi 20 poin terhadap kenaikan IHSG, menjadikan sektor finansial sebagai satu-satunya sektor yang berada di zona hijau siang ini.
Di sisi lain, saham DCI Indonesia (DCII) kembali menjadi pemberat utama indeks. Emiten milik Toto Sugiri ini ambles 3,94% dengan volume transaksi hanya 1 lot, membebani IHSG hingga 7,94 poin. Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya indeks terhadap pergerakan saham dengan kapitalisasi pasar besar namun likuiditas tipis.
Dari sisi makroekonomi, pelaku pasar tengah mencerna rilis data tenaga kerja dan konsumsi ritel Amerika Serikat yang dirilis Kamis lalu. Data tersebut mengonfirmasi ketahanan ekonomi AS, yang memberikan sinyal positif bagi pasar global meskipun masih ada kekhawatiran terhadap suku bunga. Sementara itu, perhatian global juga mulai beralih ke puncak Piala Dunia 2026 yang akan digelar akhir pekan ini, yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara temporer.
Di dalam negeri, kabar positif datang dari realisasi investasi semester I-2026 yang mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan realisasi tersebut telah mencapai 49,5% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun. Pemerintah optimistis target dapat tercapai, apalagi investasi ini mampu menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15% dari semester I-2025.
Tak kalah penting, Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek gas raksasa Lapangan Abadi, Blok Masela di Maluku, Kamis lalu. Proyek senilai US$20,95 miliar (Rp390 triliun) yang tertunda hampir 28 tahun ini akhirnya tereksekusi. Dikelola konsorsium Inpex, Pertamina, dan Petronas, blok ini diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel kondensat per hari. Proyek ini juga dilengkapi teknologi penangkapan karbon (CCS) dan diperkirakan menyerap hingga 10.000 tenaga kerja, menjadikannya salah satu pusat energi bersih terbesar di Indonesia Timur.
Dengan kombinasi sentimen domestik yang kuat dan ketidakpastian global yang masih ada, IHSG menghadapi ujian pada sesi kedua. Akankah momentum penguatan ini bertahan, atau justru tertekan oleh aksi ambil untung? Para investor patut mencermati pergerakan saham perbankan sebagai leading indicator.



