Rupiah Terjebak Stagnan di Rp17.980, Dolar AS Menanti Sinyal Konflik Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka tanpa perubahan pada Rp17.980 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya menguat 0,44% dan menembus level psikologis Rp18.000.
- Stabilitas rupiah terjadi di tengah pelemahan mingguan dolar AS akibat data inflasi AS yang lebih rendah, namun konflik Iran-AS kembali memicu permintaan aset aman.
- Pelaku pasar mencermati pidato Presiden AS Donald Trump yang dapat menentukan arah konflik dan pergerakan rupiah ke depan.

Nilai tukar rupiah memulai perdagangan Jumat (17/7/2026) dengan stagnan di posisi Rp17.980 per dolar Amerika Serikat, setelah sehari sebelumnya berhasil menguat tajam dan keluar dari level psikologis Rp18.000. Data Refinitiv menunjukkan rupiah bertahan tepat di angka yang sama, sementara indeks dolar AS (DXY) bergerak stabil di 100,753 pada pukul 09.00 WIB, setelah menguat 0,28% pada perdagangan sebelumnya.
Kemampuan rupiah bertahan di bawah Rp18.000 menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan Indonesia, namun tekanan eksternal masih membayangi. Pasar global tengah dihadapkan pada dua kekuatan yang saling tarik: data inflasi AS yang melandai dan memicu ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga, serta eskalasi konflik Iran-AS yang mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Dari sisi fundamental, data inflasi konsumen AS yang lebih rendah dari perkiraan membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli kini hanya 11%, turun signifikan dari 25% pada pekan lalu. Pasar juga memperkirakan total kenaikan suku bunga sekitar 26 basis poin hingga Desember, lebih rendah dibandingkan 44 basis poin pada awal pekan ini.
Namun, pejabat The Fed tetap berhati-hati. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyatakan bahwa perbaikan inflasi baru terlihat dalam satu bulan, setelah sebelumnya bergerak naik selama beberapa bulan. Ia membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan perbaikan berkelanjutan. Sikap ini membuat dolar AS masih memiliki potensi penguatan, meskipun tren mingguan menunjukkan pelemahan.
Di sisi lain, konflik antara Iran dan AS kembali memanas. Kedua negara saling meningkatkan serangan dalam sepekan terakhir, mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru disepakati bulan lalu. Eskalasi ini mendorong permintaan terhadap aset aman, termasuk dolar AS, dan mendongkrak harga minyak mendekati level tertinggi dalam satu bulan. Pelaku pasar kini menanti pidato Presiden AS Donald Trump yang diyakini akan memberikan petunjuk baru mengenai arah konflik.
Bagi Indonesia, stabilitas rupiah menjadi perhatian utama. Impor yang masih bergantung pada dolar AS dan utang luar negeri yang signifikan membuat pergerakan rupiah sangat sensitif terhadap sentimen global. Jika konflik Timur Tengah terus memanas, tekanan terhadap rupiah bisa kembali meningkat, terutama jika harga minyak melonjak dan memperburuk defisit transaksi berjalan.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada hasil pidato Trump dan data ekonomi AS pekan depan. Apakah The Fed akan benar-benar mempertahankan suku bunga atau justru menaikkannya jika inflasi kembali merangkak naik? Jawabannya akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000 atau kembali terperosok ke level yang lebih lemah.



