Hanya Satu Murid Baru di SDN 2 Salakaria: Kampung KB dan Tantangan Demografi Pendidikan
Baca dalam 60 detik
- SDN 2 Salakaria di Ciamis hanya menerima satu siswa baru tahun ini, mencerminkan dampak program KB terhadap jumlah anak usia sekolah.
- Kondisi demografis di Kampung KB menyebabkan jumlah siswa terus menurun, meski sekolah memiliki fasilitas dan prestasi memadai.
- Fenomena serupa terjadi di beberapa SD lain di Ciamis, mendorong dinas pendidikan untuk memastikan layanan tetap optimal tanpa diskriminasi.

SDN 2 Salakaria di Dusun Sukarasa, Desa Salakaria, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memulai tahun ajaran 2026/2027 dengan hanya satu murid baru di kelas 1. Kondisi ini membuat kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak digelar di halaman sekolah, dan upacara bendera pun ditiadakan. Sekolah yang berjarak sekitar 14 kilometer dari pusat pemerintahan Ciamis ini menjadi gambaran nyata dampak program Keluarga Berencana (KB) terhadap jumlah anak usia sekolah di pedesaan.
Guru kelas 1, Maya Nurhidayah, mengaku sempat mendaftarkan dua anak, namun satu di antaranya pindah ke Bogor. Meski hanya memiliki satu murid, Maya yang merupakan guru honorer dan tahun ini menjadi wali kelas 1 tetap bersemangat. "Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang," ujarnya, Rabu (15/7). Kepala SDN 2 Salakaria, Deni Purnama, menambahkan bahwa total siswa di sekolah tersebut saat ini hanya 32 orang, dengan rincian kelas 1 satu siswa, kelas 2 tujuh siswa, kelas 3 sembilan siswa, kelas 4 lima siswa, kelas 5 lima siswa, dan kelas 6 enam siswa.
Deni menjelaskan bahwa minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar yang memang memiliki jumlah anak usia sekolah relatif sedikit. Wilayah tersebut dikenal sebagai Kampung KB, sehingga angka kelahiran rendah. "Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat," jelasnya. Meski demikian, Deni memastikan kualitas layanan pendidikan tetap menjadi prioritas. Para guru tetap mengajar secara maksimal dengan dukungan fasilitas belajar yang memadai, termasuk penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran. Sekolah ini juga pernah meraih prestasi tingkat Provinsi Jawa Barat di bidang keagamaan, serta juara tingkat kabupaten untuk cabang tari dan Pendidikan Agama Islam.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, menegaskan bahwa fenomena ini bukan karena rendahnya kualitas pendidikan di sekolah tersebut, melainkan lebih disebabkan oleh faktor demografi penduduk di lingkungan sekitar. "Setelah kami evaluasi, ternyata bukan karena sekolah ini tidak berkualitas. Memang jumlah anak usia sekolah di lingkungan sini sudah sedikit. Banyak penduduk yang usianya sudah lanjut dan kawasan ini juga merupakan Kampung KB, sehingga jumlah kelahiran tidak banyak," tuturnya. Erwan memastikan tidak ada perbedaan pelayanan antara sekolah yang memiliki banyak siswa dengan sekolah yang jumlah muridnya minim. "Sedikit atau banyak siswanya, pelayanan pendidikan harus tetap sama. Justru dengan jumlah siswa yang sedikit, guru bisa memberikan perhatian yang lebih maksimal kepada peserta didik," ujarnya.
Erwan menambahkan bahwa SDN 2 Salakaria bukan satu-satunya sekolah dengan jumlah murid sedikit. Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa sekolah dasar lainnya di Kabupaten Ciamis, seperti di wilayah Lakbok, Rancah, dan Ciamis. Dinas Pendidikan terus memberikan semangat kepada guru dan siswa agar tetap optimistis. "Orang tua memiliki hak memilih sekolah, baik SD negeri, SD swasta maupun Madrasah Ibtidaiyah. Tugas kami adalah memastikan layanan pendidikan tersedia dan terus ditingkatkan. Kalau masih ada kekurangan, itu menjadi bahan evaluasi kami," tegas Erwan.
Fenomena ini membuka pertanyaan tentang keberlanjutan sekolah-sekolah di daerah dengan tingkat kelahiran rendah. Apakah kebijakan penggabungan sekolah (merger) atau penambahan insentif bagi guru di daerah terpencil akan menjadi solusi? Atau justru model pendidikan dengan kelas kecil seperti ini bisa menjadi alternatif efektif untuk pembelajaran individual? Yang jelas, semangat para guru di SDN 2 Salakaria patut diapresiasi, namun tantangan demografi tetap perlu diantisipasi dengan kebijakan yang adaptif.



