Rupiah Tembus Rp17.980 per Dolar AS, Terkuat dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup menguat 0,44% ke Rp17.980/US$, menembus level psikologis Rp18.000 untuk pertama kalinya dalam sepekan.
- Pelemahan dolar AS dipicu data PPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi, memperkuat sinyal inflasi mereda dan The Fed bertahan.
- Bank Indonesia memperluas intervensi di pasar NDF offshore dan instrumen CNH untuk menjaga stabilitas rupiah.

Nilai tukar rupiah berhasil menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (16/7/2026), ditutup di posisi Rp17.980/US$ atau menguat 0,44% dalam sehari. Penguatan ini menjadi yang terkuat dalam sepekan terakhir dan menandai tiga hari beruntun apresiasi mata uang Garuda.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah bergerak di rentang Rp17.970โRp18.070/US$ sepanjang sesi. Katalis utama penguatan berasal dari pelemahan dolar AS di pasar global, tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang bertahan di kisaran 100,848โlevel yang masih dalam tren turun setelah sehari sebelumnya melemah 0,43%. Pelaku pasar melakukan aksi jual aset berdenominasi dolar AS, membuka ruang apresiasi bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data harga produsen (PPI) Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. PPI untuk permintaan akhir turun 0,3% pada Juni 2026, berbalik dari revisi kenaikan 0,6% di bulan sebelumnya. Realisasi ini di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan. Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda, sehingga bank sentral AS (The Fed) dapat lebih bersabar dalam menentukan arah suku bunga.
Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap eskalasi ketegangan antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak bertahan di dekat level tertinggi satu bulan. Risiko inflasi dari sisi energi belum sepenuhnya sirna, sehingga pergerakan rupiah ke depan masih bergantung pada dinamika geopolitik global.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa sejak April 2026, BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri secara 24 jam selama enam hari dalam sepekan. Intervensi ini dilakukan melalui kantor perwakilan di Singapura, Hong Kong, dan New York. BI juga memberikan pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat. Selain itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valas dengan spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.
Langkah-langkah ini dinilai strategis untuk mendukung stabilitas rupiah di tengah volatilitas global. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah penguatan ini akan berkelanjutan, mengingat ketegangan geopolitik dan data inflasi AS masih menjadi variabel yang perlu dicermati oleh investor dan pelaku pasar domestik.



