Warren Buffett: Pasar Modal Kini Lebih Mirip Kasino daripada Investasi
Baca dalam 60 detik
- Investor legendaris Warren Buffett menilai pasar saham global telah berubah menjadi arena spekulasi, dengan maraknya perdagangan opsi jangka pendek dan euforia saham AI.
- Buffett mengkritik industri keuangan yang lebih diuntungkan dengan menciptakan 'penjudi' daripada membangun investor jangka panjang, sehingga peluang value investing semakin langka.
- Peringatan ini relevan bagi investor Indonesia yang tengah menikmati reli IHSG, namun perlu waspada terhadap risiko gelembung spekulatif di sektor teknologi dan derivatif.

Investor legendaris Warren Buffett kembali melontarkan kritik tajam terhadap kondisi pasar modal global. Dalam wawancara terbarunya, pria yang dijuluki Oracle of Omaha itu menyebut pasar saham kini lebih menyerupai arena perjudian ketimbang tempat berinvestasi jangka panjang. Pernyataan ini muncul di tengah reli pasar yang mencetak rekor tertinggi, namun dibayangi oleh maraknya perdagangan spekulatif dan euforia terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menurut Buffett, semakin sulit menemukan saham dengan valuasi menarik karena mayoritas pelaku pasar lebih memilih bertaruh pada pergerakan harga jangka pendek. "Sulit menemukan nilai investasi ketika semua orang lebih memilih berjudi," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC.com, dikutip Kamis (16/7/2026). Chairman Berkshire Hathaway itu menegaskan bahwa peluang investasi bernilai tidak selalu hadir setiap saat; ada kalanya investor harus bersabar bertahun-tahun hanya untuk menemukan satu peluang bagus.
Kritik ini bukan yang pertama kali dilontarkan Buffett. Pada Mei lalu, ia sempat mengibaratkan pasar saham sebagai "gereja yang memiliki kasino di dalamnya", menyoroti lonjakan perdagangan opsi satu hari (one-day options) yang dinilai lebih mendekati perjudian. Fenomena serupa juga terlihat dari maraknya leveraged exchange-traded funds (ETF) dan euforia terhadap saham-saham AI yang mendorong aksi spekulasi massal.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Indonesia, euforia serupa juga terlihat pada saham-saham teknologi dan emiten yang terkait dengan AI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menembus level tertinggi sepanjang masa, didorong oleh aliran dana asing dan optimisme investor ritel. Namun, para analis memperingatkan bahwa kondisi ini bisa memicu gelembung spekulatif jika tidak diimbangi dengan fundamental yang kuat.
Buffett menilai bahwa industri keuangan justru mendapat insentif lebih besar untuk menciptakan spekulan daripada investor jangka panjang. "Karena manusia sangat menyukai berjudi, ada lebih banyak uang yang dihasilkan dengan menciptakan para penjudi dibandingkan membangun para investor," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi konflik kepentingan antara kebutuhan pasar akan likuiditas dan bahaya perilaku spekulatif yang dapat menggerus nilai investasi.
Bagi investor Indonesia, peringatan Buffett menjadi pengingat penting. Di tengah euforia pasar, penting untuk tetap berpegang pada prinsip value investing: memilih saham dengan fundamental kuat, valuasi wajar, dan prospek jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa gelembung spekulatif selalu berakhir dengan koreksi tajam, dan mereka yang bertahan dengan disiplin akan menuai hasil.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah regulator dan pelaku pasar Indonesia mampu menahan laju spekulasi sebelum terlambat? Ataukah kita akan menyaksikan pengulangan siklus boom-and-bust yang sama?



