Debit Sungai Cisadane Susut 12 Persen, Ancaman Krisis Air di Musim Kemarau Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Musim kemarau tahun ini memicu penurunan debit Sungai Cisadane hingga 12 persen, lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya akibat curah hujan yang rendah.
- Balai DAS Cidurian Cisadane menutup pintu air Bendung Pasar Baru untuk menjaga pasokan air baku dan irigasi, serta berkoordinasi dengan PDAM untuk normalisasi intake.
- Jika kekeringan berlanjut, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi, namun masyarakat diimbau mulai menghemat air sekarang.

Musim kemarau tahun ini membawa dampak lebih berat bagi pasokan air di wilayah Tangerang. Debit air Sungai Cisadane di Pintu Air 10 Kota Tangerang tercatat menyusut hingga 12 persen, kondisi yang disebut lebih ekstrem dibandingkan musim kemarau sebelumnya karena curah hujan yang jauh lebih rendah.
Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian Cisadane merespons dengan menutup seluruh pintu air di Bendung Pasar Baru. Langkah ini diambil untuk mempertahankan tinggi muka air di bagian hulu, sehingga pasokan air baku ke instalasi pengolahan air dan irigasi pertanian tetap berjalan. Kepala Balai UPT DAS Cidurian Cisadane, Didik Purwanto, menjelaskan bahwa penurunan debit 12 persen sebenarnya adalah fenomena tahunan, tetapi tahun ini lebih parah karena curah hujan yang minim.
"Penurunan debit air 12 persen ini merupakan fenomena yang selalu terjadi setiap musim kemarau. Tapi kondisi tahun ini lebih ekstrem akibat curah hujan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Didik, Kamis (16/7).
Untuk menjaga pasokan air baku tetap optimal, pihaknya kini berkoordinasi dengan Perumda Air Minum (PDAM) guna melakukan normalisasi atau pengerukan di area intake. Langkah ini diharapkan dapat memaksimalkan proses pengambilan air baku selama musim kemarau berlangsung. Didik menambahkan bahwa saat ini pasokan air untuk masyarakat dan irigasi masih dalam kondisi aman, namun pemantauan debit air dilakukan secara berkala.
Konteks Indonesia: Musim kemarau yang lebih kering dari biasanya bukan hanya mengancam pasokan air bersih bagi rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian yang bergantung pada irigasi dari sungai. Wilayah Tangerang yang padat penduduk dan industri sangat rentan terhadap gangguan pasokan air baku. Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Didik mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air sebagai upaya kolektif menjaga ketersediaan sumber daya air hingga musim penghujan tiba. "Kami tetap melakukan pemantauan debit air secara berkala selama musim kemarau ini. Jika kondisi kekeringan semakin ekstrem, kami akan menyiapkan langkah-langkah antisipasi agar pasokan air baku, kebutuhan irigasi, serta fungsi pengendalian banjir tetap berjalan dengan baik," jelasnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah langkah normalisasi dan penutupan pintu air cukup untuk menghadapi potensi kekeringan yang lebih panjang? Ataukah diperlukan kebijakan yang lebih radikal, seperti pembatasan penggunaan air non-prioritas? Semua bergantung pada seberapa cepat musim penghujan tiba.



