Lima Bulan Pasca Kecelakaan Olimpiade, Lindsey Vonn Masih Berjuang Melawan Patah Tulang Pergelangan Kaki
Baca dalam 60 detik
- Pemain ski legendaris Lindsey Vonn mengaku pergelangan kakinya masih patah lima bulan setelah mengalami kecelakaan parah di Olimpiade Musim Dingin 2026.
- Vonn menjalani empat operasi untuk memperbaiki fraktur tibia kompleks dan nyaris kehilangan kakinya karena sindrom kompartemen.
- Atlet berusia 41 tahun itu kini perlahan pulih, namun proses penyembuhan diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun penuh.

Lima bulan setelah insiden mengerikan di lintasan ski Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026, Lindsey Vonn mengakui bahwa pergelangan kakinya masih dalam kondisi patah. Atlet alpine ski berusia 41 tahun itu mengungkapkan perjuangan panjangnya untuk pulih dari cedera kompleks yang nyaris membuatnya kehilangan kaki.
Dalam wawancara dengan People, Vonn menuturkan bahwa proses pemulihannya berjalan sangat lambat. “Sudah lima bulan sejak saya bisa pergi ke gym dengan cara yang berarti. Berjalan pun masih sangat sulit bagi saya. Pergelangan kaki saya masih patah,” ujarnya. Kecelakaan terjadi saat final downhill putri pada 8 Februari lalu, ketika ia jatuh dan menderita fraktur tibia kompleks di kaki kirinya. Ia harus dilarikan ke rumah sakit dengan helikopter dan menjalani empat kali operasi.
Vonn menghabiskan hampir tiga setengah bulan di kursi roda dan kemudian menggunakan kruk sebelum akhirnya bisa berjalan tanpa bantuan. “Saya sangat emosional ketika akhirnya bisa berjalan sendiri,” kenangnya. Pada 7 Juli, ia membagikan video perkembangan latihannya di Instagram, menuliskan bahwa kekuatannya mulai kembali, meskipun lebih secara mental daripada fisik. “Masih jalan panjang di depan, tapi saya akhirnya sampai di sini!” tulisnya.
Yang membuat kasus ini lebih dramatis, Vonn mengaku nyaris kehilangan kakinya akibat sindrom kompartemen—kondisi di mana tekanan darah berlebih menghancurkan otot, saraf, dan tendon. Dokter bedah ortopedi Tim AS, Dr. Tom Hackett, melakukan fasiotomi dengan membuka kedua sisi kaki Vonn untuk menyelamatkannya. “Dia menyelamatkan kaki saya dari amputasi,” kata Vonn dalam unggahan Instagram pada Februari lalu. Menariknya, Vonn meyakini bahwa cedera ACL yang ia derita sebelum Olimpiade justru menjadi berkah, karena membuat Dr. Hackett sudah siaga saat kecelakaan terjadi. “Jika saya tidak merobek ACL saya, Dr. Hackett tidak akan ada di sana. Dia tidak akan bisa menyelamatkan kaki saya,” tambahnya.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, kisah Vonn menjadi pengingat akan risiko ekstrem yang dihadapi atlet elite. Meski Indonesia tidak memiliki tradisi kuat di ski alpine, semangat pantang menyerah Vonn bisa menjadi inspirasi bagi atlet-atlet Tanah Air yang berjuang melawan cedera. Proses pemulihan yang panjang dan penuh rasa sakit ini menunjukkan bahwa di balik medali Olimpiade, ada pengorbanan fisik yang luar biasa.
Vonn berencana menjalani operasi tambahan untuk melepas pelat logam di kakinya setelah tulang pulih, dan kemudian memperbaiki ACL-nya. “Hidup adalah hidup, kita harus menerima pukulan yang datang,” filosofinya. Pertanyaan besarnya: mampukah Vonn kembali ke puncak performa, atau akankah cedera ini mengakhiri karier gemilangnya? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti—perjuangannya belum usai.



