Korban Tewas Kebakaran Bar di Bangkok Capai 30 Orang, Gubernur Janjikan Inspeksi Ketat
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di bar musik live Bangkok menewaskan 30 orang dan melukai 75 lainnya, dengan dugaan korsleting listrik dan pintu darurat terhalang.
- Gubernur Chadchart Sittipunt memerintahkan survei menyeluruh tempat hiburan dan penegakan hukum keselamatan yang lebih ketat.
- Insiden ini memicu kembali pertanyaan tentang kepatuhan aturan kebakaran di Thailand, termasuk penggunaan bahan mudah terbakar dan izin usaha.

Kebakaran hebat yang melanda sebuah bar musik live di Bangkok pada Minggu malam (12 Juli) telah menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai 75 lainnya, menjadikannya salah satu tragedi kebakaran paling mematikan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir. Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt, langsung bereaksi dengan menjanjikan inspeksi ketat dan peninjauan ulang regulasi keselamatan tempat hiburan.
Api melalap habis Rong Beer Na Lat Phrao, sebuah bar dan restoran di kawasan Chatuchak, Bangkok utara, tak lama sebelum tengah malam. Saksi mata menggambarkan ledakan diikuti semburan api horizontal yang dengan cepat menyelimuti bangunan satu lantai tersebut. Petugas pemadam kebakaran membutuhkan waktu setengah jam untuk mengendalikan api. Dari 30 korban tewas, sebagian besar ditemukan terperangkap di kamar mandi tanpa jendela, diduga mencoba menyelamatkan diri dari kobaran api. Gubernur Chadchart menyatakan bahwa mayoritas korban meninggal akibat menghirup asap.
Penyelidikan awal mengarah pada korsleting listrik pada pendingin udara di langit-langit sebagai pemicu kebakaran. Bar tersebut disebut telah menjalani inspeksi keselamatan pada April lalu. Namun, polisi masih mendalami apakah pintu darurat terhalang dan apakah material dekorasi panggung serta peredam suara terbuat dari bahan mudah terbakar tanpa perawatan tahan api. Presiden Asosiasi Insinyur Struktur Thailand, Amorn Pimanmas, yang mengamati lokasi kejadian, menyoroti sejumlah faktor risiko: bangunan tertutup, langit-langit rendah, dan kemungkinan penggunaan busa dekoratif yang tidak dilapisi flame-retardant. Kombinasi ini, menurutnya, menyebabkan asap beracun cepat terakumulasi dan menjadi penyebab utama kematian.
Gubernur Chadchart pada Selasa (14 Juli) mengumumkan pembentukan komite investigasi untuk mencari kebenaran dan merekomendasikan perubahan aturan. Ia juga memerintahkan survei besar-besaran terhadap tempat hiburan serupa di seluruh Bangkok untuk menilai risiko kebakaran. โKami akan menegakkan hukum yang ada untuk meningkatkan standar keselamatan,โ tegasnya dalam konferensi pers. Polisi telah memeriksa 34 saksi dan akan mempertimbangkan pengajuan tuntutan setelah bukti terkumpul. Pemilik bar saat ini masih dirawat di unit perawatan intensif.
Sorotan juga tertuju pada celah regulasi. Pejabat Kementerian Dalam Negeri Thailand, Unsit Sampuntharat, mengungkapkan bahwa izin usaha bar tengah diperiksa, termasuk apakah tempat itu berwenang menyelenggarakan musik live. Amorn Pimanmas menambahkan, bar tersebut beroperasi di luar zona yang ditetapkan untuk tempat hiburan, sehingga hanya memiliki izin restoran. Akibatnya, tempat itu tidak tunduk pada persyaratan keselamatan kebakaran yang lebih ketat yang berlaku untuk tempat hiburan. โHarus ada revolusi dalam prosedur keselamatan kebakaran, dan penegakan hukum juga sangat penting,โ ujarnya. โBukan karena kita tidak punya hukum, tapi masalahnya adalah bagaimana hukum bisa ditegakkan secara ketat mulai sekarang. Pemerintah harus menjawab pertanyaan ini.โ
Tragedi ini mengingatkan kembali pada rentetan kebakaran mematikan di tempat hiburan Thailand. Pada 2022, kebakaran klub malam di Chonburi menewaskan 13 orang. Lebih tragis lagi, kebakaran malam Tahun Baru 2009 di sebuah klub padat di Bangkok merenggut 65 jiwa dan melukai sekitar 200 orang, dengan investigasi yang mengungkap korupsi dan pelanggaran keselamatan. Pola berulang ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas pengawasan dan penegakan aturan di Thailand.
Di tengah duka, keluarga korban masih menanti kepastian. Booyaporn Sermsiri, 51 tahun, mencari putrinya yang hilang, Jawaee โCartoonโ Sermsiri, 25 tahun. Ia telah memberikan sampel DNA dan menunggu hasilnya. โSejak kami belum menemukannya, kami hanya bisa menunggu. Kami berpegang pada harapan,โ katanya. Tiga jenazah korban masih belum teridentifikasi. Sementara itu, bar melalui halaman Facebook-nya menyampaikan permintaan maaf mendalam dan menyatakan kerja sama penuh dengan investigasi. Unggahan itu dibanjiri ratusan komentar, banyak yang meluapkan kemarahan dan mempertanyakan standar keselamatan tempat tersebut.
Pertanyaan kunci kini mengemuka: apakah tragedi ini akan mendorong perubahan nyata dalam penegakan standar keselamatan kebakaran di Thailand, atau akan kembali menjadi catatan kelam yang terulang? Dengan janji Gubernur Chadchart untuk melakukan survei dan revisi aturan, publik menanti langkah konkret yang dapat mencegah terulangnya peristiwa serupa.



