Konflik Selat Hormuz Mereda? Harga Minyak Melonjak 10% dalam Dua Hari, Ancaman Pasokan Menguat
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI melesat lebih dari 10% dalam dua hari perdagangan, mencapai level tertinggi dalam sebulan, dipicu eskalasi militer AS-Iran di Selat Hormuz.
- Blokade AS terhadap pelayaran Iran dan serangan rudal terhadap kapal tanker UEA meningkatkan premi risiko, meski jalur vital itu belum sepenuhnya ditutup.
- Kenaikan harga berpotensi membebani APBN Indonesia melalui subsidi energi dan defisit neraca dagang, mengingat posisi net importir minyak.

Harga minyak mentah dunia mencatat reli tercepat dalam sebulan terakhir, dengan Brent dan WTI masing-masing naik lebih dari 10 persen hanya dalam dua hari perdagangan. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Berdasarkan data Refinitiv pada Selasa (14/7/2026) pagi, harga minyak Brent mencapai US$84,19 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$79,35 per barel. Padahal, awal pekan lalu Brent masih bertengger di US$76,01 per barel. Artinya, dalam waktu kurang dari 48 jam, pasar energi global mengalami guncangan yang tidak biasa.
Pemicu utama adalah keputusan Washington untuk memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran. Presiden Donald Trump bahkan meminta negara-negara yang menikmati perlindungan di Selat Hormuz ikut menanggung biaya operasi militer. Langkah ini langsung direspons Teheran dengan serangan rudal jelajah yang mengenai dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab di perairan Oman. Satu awak kapal asal India tewas, delapan lainnya luka-luka.
Komando Pusat AS mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara ke Iran selama tiga malam berturut-turut. Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, YJC, melaporkan sedikitnya tujuh ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua ledakan di Pulau Kish. Eskalasi ini membuat pasar kembali membangun premi risiko yang sempat mereda beberapa pekan terakhir.
Analis Kepala Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa blokade dan respons militer Iran membuat prospek pasokan minyak semakin sulit diprediksi. โMeski Selat Hormuz belum ditutup sepenuhnya, ketidakpastian sudah cukup untuk mendorong harga naik,โ ujarnya. Risiko semakin meluas setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan rudal ke Arab Saudi, menambah potensi gangguan di jalur Laut Merah.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini membawa implikasi langsung. Sebagai negara net importir minyak, setiap kenaikan US$10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah. Pada saat yang sama, defisit neraca perdagangan migas bisa melebar, menekan nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan fiskal jika harga bertahan di atas US$80 per barel dalam jangka panjang.
Manajer portofolio Gabelli Funds, Simon Wong, memperingatkan bahwa jika serangan Houthi meluas hingga mengganggu distribusi produk minyak Arab Saudi melalui Laut Merah, ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah akan meningkat drastis. Hal ini bisa memicu kenaikan harga lebih lanjut, mengingat Arab Saudi adalah pemasok utama ke Asia, termasuk Indonesia.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mengantisipasi pengetatan pasokan di Amerika Serikat. Survei awal Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, sementara persediaan bensin dan produk distilasi diperkirakan meningkat. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) dalam beberapa hari ke depan akan menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan harga.
Dengan kombinasi risiko geopolitik yang masih panas dan fundamental pasokan yang ketat, pertanyaan besarnya adalah: seberapa jauh harga minyak bisa melaju? Jika konflik di Selat Hormuz tidak mereda dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin Brent menembus level US$90 per barel, membawa dampak yang lebih luas bagi perekonomian global dan domestik.



