IHSG Melompat 1,92% di Menit Akhir: S&P Pertahankan Peringkat Kredit RI
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 1,92% ke 6.037,84 pada Senin (13/6/2026) didorong lonjakan di 20 menit terakhir perdagangan.
- Penguatan dipicu keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil, menepis kekhawatiran tekanan fiskal dan eksternal.
- Saham perbankan dan konglomerat seperti BMRI, BBRI, dan AMMN menjadi motor utama, sementara sektor bahan baku dan energi memimpin penguatan sektoral.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat reli dramatis pada penutupan perdagangan Senin (13/6/2026) dengan melonjak 113,48 poin atau 1,92% ke level 6.037,84, setelah sepanjang hari bergerak volatil dan tiba-tiba melesat 20 menit sebelum bel akhir berbunyi.
Keputusan Lembaga Pemeringkat Internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil menjadi katalis utama di sesi akhir. Dalam laporan yang dirilis 13 Juli 2026, S&P menilai tekanan fiskal dan eksternal yang dihadapi Indonesia bersifat sementara dan dapat pulih dalam beberapa tahun ke depan.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp 12,14 triliun dengan volume 25,07 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,68 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar bertambah menjadi Rp 10.510 triliun. Sebanyak 392 emiten menguat, 268 melemah, dan 305 stagnan.
Hampir seluruh sektor berada di zona hijau, dengan bahan baku memimpin penguatan 3,74%, disusul energi 2,58%, utilitas 2,39%, dan finansial 1,69%. Satu-satunya sektor yang masih terkoreksi tipis adalah kesehatan. Saham perbankan dan konglomerat menjadi pendorong utama: Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 13,88 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 11,68 poin, dan Amman Mineral (AMMN) 11,37 poin. VKTR, BRPT, BBCA, dan BBNI juga masuk daftar top movers, sementara penahan laju IHSG hampir tidak signifikan.
Bagi investor Indonesia, keputusan S&P memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi masih terjaga meskipun ada tekanan dari tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, dan akumulasi utang. S&P mengakui posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan, namun menilai perbaikan harga komoditas dan langkah pemerintah mengendalikan belanja dapat memperkuat kembali kondisi tersebut. Lembaga itu juga menyoroti upaya pemerintah memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral yang dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor jangka panjang.
โKami meyakini upaya pemerintah untuk memusatkan pengelolaan serta mengurangi kebocoran di sektor sumber daya alam dan mineral pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor, terutama apabila implementasi kebijakan semakin membaik,โ tulis S&P dalam laporannya.
Prospek stabil juga mencerminkan harapan S&P bahwa pemerintah akan terus mempertahankan batas defisit tahunan 3% sebagai jangkar kebijakan fiskal. Pertanyaannya kini, mampukah momentum penguatan IHSG bertahan di tengah ketidakpastian global dan tekanan domestik yang masih membayangi?



