IHSG Terombang-ambing, Asing Lepas Saham Rp274,8 Miliar di Sesi I
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp274,8 miliar di seluruh pasar saham Indonesia pada sesi I, dengan MAPI, BBCA, dan ASII menjadi sasaran jual terbesar.
- IHSG berakhir menguat tipis 0,11% ke 5.930,84 setelah sempat terperosok ke 5.898, menunjukkan volatilitas tinggi di tengah dominasi aksi jual asing.
- Akumulasi asing terfokus pada BRPT, BRMS, dan BBRI, mengindikasikan pergeseran minat ke sektor komoditas dan perbankan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak liar pada sesi pertama perdagangan, Senin (13/7/2026), ditutup menguat tipis meskipun investor asing masih membukukan aksi jual bersih yang signifikan. Data perdagangan menunjukkan net sell asing mencapai Rp274,8 miliar di seluruh pasar, menekan sentimen pasar yang sudah rapuh.
Nilai beli asing tercatat Rp1,4 triliun, sementara nilai jual mencapai Rp1,7 triliun, menghasilkan arus dana keluar bersih yang konsisten. Tekanan jual terbesar tertuju pada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan net sell Rp110,4 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp94,5 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp42,6 miliar. Saham-saham ini menjadi korban profit taking atau aksi lepas posisi di tengah ketidakpastian pasar global.
Di sisi lain, asing tetap melakukan akumulasi pada sejumlah saham. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi primadona dengan net buy Rp70,7 miliar, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp40,5 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp18,8 miliar. Minat terhadap saham komoditas dan perbankan ini menunjukkan bahwa investor asing masih selektif, mencari sektor yang dianggap memiliki prospek jangka panjang.
IHSG sendiri membuka sesi dengan tekanan, sempat merosot 0,44% ke level 5.898 sebelum berhasil bangkit dan ditutup naik 0,11% ke 5.930,84. Namun, kondisi pasar masih didominasi sentimen negatif: sebanyak 348 emiten berada di zona merah, sementara hanya 274 yang hijau dan 343 stagnan. Volatilitas tinggi ini mencerminkan ketidakpastian investor terhadap arah kebijakan moneter global dan prospek ekonomi domestik.
Bagi investor Indonesia, pola pergerakan asing ini menjadi sinyal penting. Pelepasan saham konsumen dan perbankan besar seperti BBCA dan ASII mengindikasikan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan pertumbuhan kredit. Sebaliknya, akumulasi di BRPT dan BRMS menunjukkan optimisme pada sektor sumber daya alam yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Keputusan Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga atau sinyal stimulus fiskal akan menjadi katalis berikutnya yang dinanti pasar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aksi jual asing ini akan berlanjut atau hanya bersifat sementara. Jika tekanan jual terus berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support psikologis 5.800. Namun, jika terjadi pembalikan arah masuknya dana asing, indeks bisa kembali menuju level 6.000. Investor ritel disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan data inflasi global sebagai indikasi awal perubahan sentimen.



