Rupiah Jeblok ke Rp18.100, Terseret Konflik Iran-AS dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,30% ke Rp18.100 per dolar AS pada Senin (13/7/2026), level terlemah dalam sebulan terakhir.
- Tekanan berasal dari eskalasi konflik Iran-AS yang memicu kenaikan harga minyak dan memperkuat indeks dolar.
- Peluang The Fed menaikkan suku bunga dua kali hingga akhir tahun naik menjadi 52,1%, menambah beban bagi mata uang emerging market.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke posisi terendah dalam satu bulan terakhir, ditutup di level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan ini. Pelemahan sebesar 0,30% itu terjadi di tengah gelombang tekanan eksternal yang datang dari eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS.
Sepanjang hari Senin (13/7/2026), rupiah sudah berada dalam zona merah sejak sesi pembukaan. Mata uang Garuda dibuka di Rp18.075/US$, lalu terus merosot hingga menembus level psikologis Rp18.100 dan sempat menyentuh titik terlemah harian di Rp18.140/US$. Kondisi ini mencerminkan besarnya permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik, yang dipicu oleh ketidakpastian global yang kian memanas.
Tekanan terbesar datang dari konflik terbaru antara AS dan Iran. Pada akhir pekan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas AS di sejumlah negara Teluk, serta kembali menutup Selat Hormuzโjalur vital bagi perdagangan energi dunia. Langkah ini langsung mendongkrak harga minyak mentah Brent sebesar 3,3% menjadi US$78,49 per barel pada awal perdagangan Asia. Kenaikan harga minyak menjadi sinyal bahaya bagi inflasi global, yang berpotensi memaksa The Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.
Di pasar keuangan, ekspektasi terhadap sikap hawkish The Fed semakin menguat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga dua kali atau lebih hingga rapat Desember naik dari 47,6% pada Jumat lalu menjadi 52,1%. Kombinasi antara ancaman inflasi akibat harga energi yang melonjak dan ketegangan geopolitik membuat dolar AS kembali perkasa. Indeks dolar (DXY) tercatat menguat tipis 0,04% ke level 100,985 pada sore hari.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah ini membawa implikasi langsung pada sektor impor dan utang luar negeri. Harga barang-barang impor, terutama bahan baku industri dan energi, berpotensi meningkat seiring depresiasi mata uang. Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas, namun efektivitasnya masih tergantung pada dinamika global ke depan.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta sinyal kebijakan moneter The Fed. Jika harga minyak terus merangkak naik dan ketegangan geopolitik tak kunjung mereda, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut. Pertanyaannya, sejauh mana Bank Indonesia bersedia mengerahkan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan, atau justru membiarkan rupiah mencari keseimbangan baru di tengah badai global?



