IHSG Hijau Tipis di Tengah Ketegangan Global: Sektor Teknologi Jadi Penopang
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup naik 0,11% ke 5.930,84 pada sesi I, meskipun mayoritas saham melemah dan volume transaksi masih rendah.
- Eskalasi konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz memicu volatilitas pasar global, tercermin dari aksi jual di bursa Korea Selatan.
- Pekan ini pelaku pasar akan mencermati rilis data makroekonomi domestik dan global untuk mengukur arah kebijakan moneter dan dampak geopolitik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan posisi di zona hijau pada penutupan sesi pertama perdagangan Senin (13/7/2026), meskipun dibayangi ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah dan aksi jual besar-besaran di bursa Korea Selatan. Indeks acuan tanah air ditutup naik 0,11% atau 6,48 poin ke level 5.930,84, setelah sempat terperosok ke level 5.898 pada awal sesi.
Meski indeks menguat, jumlah saham yang berada di zona merah justru lebih banyak. Tercatat 274 emiten menguat, 348 melemah, dan 343 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp6 triliun, melibatkan 14,02 miliar saham dalam 1,78 juta kali transaksi—menunjukkan aktivitas pasar yang masih terbilang sepi. Sektor teknologi menjadi motor penguatan dengan kenaikan 0,9%, sementara sektor finansial menjadi pemberat terbesar dengan koreksi 0,67%.
Sejumlah saham menjadi penopang utama IHSG. Emiten Bakrie VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) menyumbang bobot 7,69 poin, diikuti Mora Telematika (MORA) 4,6 poin, Barito Pacific (BRPT) 3,19 poin, dan Bumi Resources Minerals (BRMS) 2,23 poin. Di sisi lain, saham Bank Central Asia (BBCA) yang terkoreksi 1,62% menjadi beban terbesar dengan menekan indeks sebesar -8,82 poin, disusul Capital Financial Indonesia (CASA) yang menyumbang -4,39 poin.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan utama. Pada Minggu (12/7), Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, serta kembali menutup Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG global. AS membalas dengan serangan terhadap lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga hari terakhir, seperti dikonfirmasi oleh CENTCOM. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut berhasil, sementara Iran menegaskan tidak akan menerima "kesepakatan sepihak" dan memperingatkan AS untuk menepati komitmennya.
Blokade Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Dampaknya langsung terasa di bursa Asia, terutama Korea Selatan. Indeks KOSPI anjlok lebih dari 8% pada perdagangan intraday, memicu penghentian sementara perdagangan (circuit breaker) oleh Korea Exchange selama 20 menit. Aksi jual besar-besaran ini mencerminkan kepanikan investor terhadap eskalasi konflik yang dapat mengganggu rantai pasok energi global.
Bagi investor Indonesia, konflik ini menjadi pengingat akan kerentanan pasar domestik terhadap guncangan eksternal. Meski IHSG masih bertahan di zona hijau, tekanan terhadap sektor finansial dan potensi kenaikan harga komoditas energi patut diwaspadai. Pekan ini, pelaku pasar akan memfokuskan perhatian pada rilis data makroekonomi domestik, termasuk kinerja perdagangan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, yang diharapkan memberi gambaran lebih jelas tentang arah kebijakan moneter Bank Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana konflik AS-Iran akan mempengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia. Apakah IHSG mampu bertahan di zona hijau, atau justru akan terseret arus negatif jika ketegangan berlanjut? Jawabannya akan sangat bergantung pada respons kebijakan domestik dan perkembangan diplomasi di Timur Tengah.



