A*STAR Gelontorkan Rp1,7 Triliun untuk Riset Remaja: Cari Jawaban atas Krisis Mental dan Digital
Baca dalam 60 detik
- Singapura memulai studi longitudinal lima tahun senilai S$150 juta untuk melacak kesehatan, kesejahteraan mental, dan kebiasaan digital 5.000 remaja.
- Penelitian ini mengisi celah data spesifik Asia yang selama ini didominasi temuan dari populasi Barat, dengan fokus pada pengaruh budaya dan genetik lokal.
- Temuan diharapkan menjadi dasar kebijakan preventif, termasuk intervensi dini untuk obesitas, stres akademik, dan dampak media digital pada remaja.

Pemerintah Singapura melalui Badan Sains, Teknologi, dan Riset (A*STAR) meluncurkan studi ambisius senilai S$150 juta (sekitar Rp1,7 triliun) untuk mengungkap faktor-faktor yang membentuk kesehatan fisik, mental, dan perilaku digital remaja—sebuah langkah yang dinilai krusial di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kesejahteraan generasi muda.
Studi selama lima tahun ini akan melibatkan sekitar 5.000 partisipan berusia 10 hingga 24 tahun, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Singapura dan sejumlah mitra lainnya. Tujuan utamanya adalah membangun bukti berbasis data yang spesifik untuk konteks Singapura dan Asia, mengingat sebagian besar riset remaja saat ini masih bertumpu pada populasi Barat yang memiliki latar budaya dan genetik berbeda.
“Masa remaja adalah jendela peluang kedua setelah 1.000 hari pertama kehidupan,” ujar Profesor Johan Eriksson, direktur eksekutif Institute for Human Development and Potential A*STAR. Menurutnya, periode ini ditandai dengan perkembangan otak yang pesat, perubahan hormonal, serta pergeseran relasi sosial dan keluarga. “Sangat sedikit riset yang dilakukan sebelumnya. Apa yang kami lakukan sekarang benar-benar baru,” tegasnya.
Riset ini hadir di saat kekhawatiran terhadap kesehatan mental remaja kian mengemuka, terutama terkait tekanan akademik, penggunaan gawai berlebihan, dan perubahan pola tidur. A*STAR menegaskan bahwa studi ini bertujuan mengatasi kelangkaan data longitudinal di Singapura dan Asia yang dapat digunakan untuk merancang kebijakan, program, dan intervensi yang tepat sasaran.
Berbeda dengan studi sebelumnya yang hanya menyoroti satu aspek—misalnya kesejahteraan mental saja—penelitian ini bersifat holistik. Tim peneliti akan mengamati interaksi antara kesehatan fisik, perkembangan kognitif, tidur, aktivitas fisik, nutrisi, dan perilaku digital secara simultan. “Kami ingin menyatukan semua data dari berbagai studi agar gambaran yang dihasilkan utuh,” kata Prof Eriksson.
Faktor budaya dan genetik menjadi perhatian khusus. Menurut Prof Eriksson, keluarga memiliki makna yang lebih besar bagi warga Singapura dibandingkan banyak populasi Barat. Demikian pula tekanan terkait prestasi sekolah sangat berbeda. “Kami perlu memahami konteks lokal agar intervensi yang dirancang benar-benar relevan,” tambahnya.
Studi ini juga akan menyelidiki bagaimana lingkungan digital dan perkotaan memengaruhi kesejahteraan remaja. Penggunaan media sosial, identitas daring, serta paparan terhadap ruang hijau dan kualitas lingkungan akan menjadi variabel yang diukur. Temuan awal diharapkan dapat memandu pengembangan intervensi berbasis bukti yang bisa diuji coba di tingkat nasional.
Bagi Indonesia, riset ini memberikan gambaran tentang pentingnya pendekatan berbasis data dalam menangani isu remaja. Dengan jumlah penduduk muda yang besar dan penetrasi internet yang tinggi, Indonesia menghadapi tantangan serupa—mulai dari krisis kesehatan mental hingga kecanduan gawai. Namun, tanpa studi longitudinal yang memadai, kebijakan yang diambil kerap bersifat reaktif. Langkah Singapura bisa menjadi referensi bagi pengambil kebijakan di Tanah Air untuk mulai membangun basis data remaja yang komprehensif.
Ke depan, para peneliti akan menarik data dari berbagai kohort yang sudah ada untuk mengidentifikasi faktor paling dominan, lalu memvalidasi temuan melalui uji coba nasional. Pertanyaan besarnya: mampukah pendekatan ini menghasilkan terobosan yang benar-benar mengubah arah kebijakan kesehatan remaja di Asia?



