Ken Bates Tutup Usia: Dari Pembelian Chelsea Rp20 Ribu hingga Kontroversi Pagar Listrik
Baca dalam 60 detik
- Ken Bates, mantan pemilik Chelsea yang membeli klub itu hanya dengan £1 pada 1982, meninggal dunia di usia 94 tahun.
- Di bawah kepemimpinannya, Chelsea bangkit dari ambang kebangkrutan menjadi klub papan atas Eropa, meski ia juga dikenal karena kontroversi seperti pagar listrik di Stamford Bridge.
- Setelah menjual Chelsea ke Roman Abramovich, Bates mengambil alih Leeds United dan menghadapi masa sulit termasuk administrasi dan degradasi.

Ken Bates, sosok yang membeli Chelsea hanya dengan £1 pada 1982 dan menjualnya £140 juta dua dekade kemudian, meninggal dunia di usia 94 tahun. Namanya identik dengan kontroversi, gebrakan, dan transformasi besar dalam sepak bola Inggris.
Bates memulai karier di Oldham Athletic pada 1960-an, lalu menjadi pemilik Wigan Athletic sebelum akhirnya mengakuisisi Chelsea yang saat itu terlilit utang £1,5 juta dan nyaris bangkrut. Dalam 21 tahun masa kepemimpinannya, Chelsea berubah dari klub yang terancam punah menjadi kekuatan domestik dan Eropa, memenangi Piala FA dua kali, Piala Liga, Piala Winners UEFA 1998, dan Piala Super UEFA.
Kesuksesan itu tak lepas dari kemampuannya mendatangkan pemain bintang seperti Ruud Gullit, Marcel Desailly, Gianluca Vialli, dan Gianfranco Zola. Namun, Bates juga dikenal dengan tangan besinya. Ia memecat Gullit pada 1998 hanya setahun setelah pelatih Belanda itu membawa pulang Piala FA, dan kabarnya sang manajer mengetahui pemecatan itu lewat Teletext.
Salah satu warisan terbesarnya adalah pengamanan masa depan Stamford Bridge. Bates memenangi pertarungan hukum melawan pengembang properti Marler Estates yang menguasai sebagian besar tanah stadion, lalu meluncurkan skema Chelsea Pitch Owners yang membagi kepemilikan lahan kepada suporter. Langkah ini memastikan klub tidak akan kehilangan kandangnya seperti yang dialami banyak klub lain.
Kontroversi tak pernah jauh dari Bates. Pada 1991, Chelsea didenda £105.000 karena pembayaran ilegal kepada pemain, dan Bates mengundurkan diri dari komite manajemen Football League. Namun, ia juga berperan penting dalam pembangunan ulang Stadion Wembley sebagai anggota komite eksekutif FA dan ketua Wembley National Stadium Limited, meski akhirnya mundur karena merasa tidak didukung.
Setelah menjual Chelsea ke Roman Abramovich pada 2003, Bates mengambil alih Leeds United pada 2005. Ia menyebutnya sebagai "tantangan terakhir". Namun, masa jabatannya di Leeds penuh gejolak: klub masuk administrasi sukarela, terdegradasi ke League One, dan mendapat potongan poin total 25 poin. Leeds baru kembali ke Championship pada 2010, dan Bates menjual klub itu dua tahun kemudian.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Bates mengingatkan pada pentingnya tata kelola klub yang sehat. Model Chelsea Pitch Owners bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub di Indonesia yang kerap menghadapi masalah kepemilikan stadion. Pertanyaannya, mampukah klub-klub Tanah Air meniru langkah Bates dalam mengamankan aset sekaligus melibatkan suporter?



