Suku Bunga Tinggi Tak Goyahkan Perbankan: Kredit Tumbuh 11%, Bank Digital Superbank Cetak Laba Rp188 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan suku bunga acuan BI ke 5,75% tidak menghambat kinerja perbankan, dengan kredit tumbuh 11% dan DPK naik 13% secara nasional.
- Superbank, bank digital, mencatat pertumbuhan eksplosif: 6 juta nasabah, DPK melonjak 95%, dan laba bersih Rp188 miliar per Mei 2026.
- Efisiensi operasional dan kualitas aset yang terjaga menjadi kunci ketahanan sektor perbankan di tengah tekanan suku bunga global.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,75% di tengah ketidakpastian geopolitik global nyatanya tidak membuat sektor perbankan goyah. Sebaliknya, data terbaru menunjukkan pertumbuhan kredit masih mencapai 11% dan Dana Pihak Ketiga (DPK) melesat 13%, membantah kekhawatiran akan tekanan likuiditas dan perlambatan bisnis.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menilai era suku bunga tinggi justru menjadi ujian yang berhasil dilewati perbankan nasional. โTantangan ini masih bisa dihadapi dengan baik, terbukti dari pertumbuhan kredit dan DPK yang solid,โ ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Jumat (10/7/2026). Menurutnya, kunci ketahanan terletak pada efisiensi operasional dan manajemen risiko yang ketat, terutama di segmen bank digital.
Superbank sendiri menjadi contoh nyata bagaimana bank digital mampu memanfaatkan momentum. Hingga Mei 2026, bank yang fokus pada layanan berbasis aplikasi ini telah mengumpulkan lebih dari 6 juta nasabah. DPK tumbuh 95% secara tahunan (year-on-year), sementara total pendanaan meningkat 50%. Laba bersih yang diraih mencapai Rp188 miliar, angka yang impresif untuk bank digital yang relatif baru.
Pencapaian Superbank mencerminkan pergeseran preferensi nasabah ke layanan digital yang lebih efisien. Di saat bank konvensional harus menaikkan suku bunga kredit untuk menjaga margin, bank digital seperti Superbank bisa mengandalkan biaya operasional yang lebih rendah. Hal ini memungkinkan mereka menawarkan suku bunga simpanan kompetitif tanpa mengorbankan profitabilitas.
Namun, analis mengingatkan bahwa pertumbuhan agresif juga membawa risiko. Kualitas kredit harus terus dipantau, terutama jika suku bunga tetap tinggi dalam jangka panjang. Rasio kredit bermasalah (NPL) di sektor perbankan digital masih relatif rendah, tetapi ekspansi cepat bisa meningkatkan eksposur terhadap segmen ritel yang lebih rentan.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, kinerja perbankan di era suku bunga tinggi memberikan sinyal optimisme. Sektor ini tetap menjadi salah satu pilar ekonomi yang stabil, dengan bank digital menunjukkan potensi pertumbuhan yang luar biasa. Pertanyaannya, mampukah bank digital mempertahankan momentum ini ketika suku bunga mulai turun dan persaingan semakin ketat?



