Sunderland Incar Matias Soule sebagai Target Utama: Solusi Kreativitas di Lini Tengah
Baca dalam 60 detik
- Sunderland membuka negosiasi dengan Roma untuk merekrut gelandang serang Argentina Matias Soule dengan banderol £30 juta.
- Klub asal Inggris itu membutuhkan peningkatan kreativitas setelah menjadi salah satu tim dengan expected goals terendah di Premier League musim lalu.
- Soule, 23 tahun, dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi bintang dan diharapkan bisa mengisi peran serupa dengan Enzo Le Fee.

Sunderland siap menggebrak bursa transfer musim panas ini dengan menjadikan Matias Soule, gelandang serang milik Roma, sebagai prioritas utama. Klub asal Inggris itu dikabarkan telah membuka pembicaraan dengan raksasa Serie A tersebut untuk menebus pemain berusia 23 tahun dengan nilai transfer mencapai £30 juta.
Langkah ambisius ini tak lepas dari kebutuhan mendesak Sunderland untuk memperkuat lini kreatif mereka. Musim lalu, tim asuhan Regis Le Bris tercatat sebagai salah satu tim dengan produktivitas serangan terburuk di Premier League. Data expected goals (xG) menunjukkan bahwa Sunderland berada di posisi bawah dalam hal kualitas peluang yang diciptakan. Jika tidak segera diperbaiki, ancaman 'second-season syndrome'—di mana tim promosi justru terpuruk di musim kedua—bisa menjadi kenyataan.
Manajemen Sunderland sadar bahwa keberhasilan musim lalu—yang membawa mereka ke Liga Europa—tidak otomatis menjamin kesuksesan berulang. Sebaliknya, beban bermain di dua kompetisi (domestik dan Eropa) justru menuntut kedalaman skuad yang lebih baik. Salah satu titik lemah yang paling mencolok adalah minimnya kreativitas dari lini tengah, meskipun sudah ada Enzo Le Fee yang tampil impresif dengan lima gol dan enam assist musim lalu.
Matias Soule dinilai sebagai profil yang tepat untuk menambah daya gedor Sunderland. Pemain yang pernah dipinjamkan ke Frosinone dan kini bersinar di Roma itu dikenal memiliki kemampuan dribel lincah, visi bermain tajam, serta fleksibilitas untuk bermain di sayap atau sebagai gelandang serang tengah. Jurnalis Zach Lowy bahkan menyebut bakat Soule di atas bola sebagai sesuatu yang "spesial". Meski belum menjadi superstar di Italia, potensi ledakan performanya dalam beberapa tahun ke depan diyakini sangat besar.
Keputusan Sunderland untuk memburu Soule juga menunjukkan perubahan strategi. Setelah gagal dengan rekrutan mahal Habib Diarra musim lalu, klub kini lebih selektif namun tetap berani mengeluarkan dana besar untuk pemain yang diyakini bisa langsung berkontribusi. Soule, yang masih berusia 23 tahun, dianggap memiliki ruang perkembangan yang luas dan bisa menjadi investasi jangka panjang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Sunderland di bursa transfer ini menarik untuk diikuti. Klub yang pernah diperkuat pemain Indonesia, Stefano Lilipaly, di masa lalu kini kembali menunjukkan ambisi untuk bersaing di level tertinggi Eropa. Jika transfer Soule terealisasi, ia akan menjadi salah satu pemain Amerika Selatan paling menarik yang merumput di Premier League musim depan.
Namun, masih ada pertanyaan besar: mampukah Sunderland mempertahankan performa di Liga Europa sambil tetap kompetitif di Premier League? Atau justru beban ganda ini akan membuat mereka kesulitan seperti yang dialami banyak klub sebelumnya? Jawabannya akan mulai terlihat saat bursa transfer ditutup dan musim baru bergulir.



