Pemakaman Khamenei di Tengah Serangan Balik AS-Iran: Ketegangan Mengarah ke Konflik Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran dimakamkan di Mashhad setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan baru yang menewaskan 17 orang.
- Putra Khamenei, Mojtaba, yang disebut terluka dalam serangan 28 Februari, masih belum muncul di publik meski telah ditunjuk sebagai penerus.
- Serangan balasan Iran menargetkan aset AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar, sementara Yordania mencegat delapan rudal Iran.

Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu, akhirnya digelar di kota kelahirannya, Mashhad, di tengah eskalasi militer yang semakin meluas antara Teheran dan Washington. Jenazah Khamenei dimakamkan di kompleks makam Imam Reza, tempat suci bagi kaum Syiah, setelah prosesi pemakaman enam hari yang diwarnai ketegangan dan serangan udara balasan dari kedua belah pihak.
Pemakaman tersebut berlangsung di tengah laporan bahwa serangan AS terhadap sasaran di Iran telah menewaskan sedikitnya 17 orang, termasuk satu serangan yang dilaporkan menghantam jalur kereta api antara Teheran dan Mashhad. Sebagai balasan, Iran mengumumkan telah melanjutkan serangan terhadap aset-aset militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Sementara itu, sirene peringatan berbunyi di Yordania, sekutu AS lainnya, setelah militer negara itu mengklaim berhasil mencegat delapan rudal yang diluncurkan dari Iran.
Kehadiran sejumlah tokoh kunci Iran dalam upacara pemakaman, seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei, dan putra sulung Khamenei, Mostafa, menjadi sorotan. Namun, yang paling dinanti adalah kemunculan Mojtaba Khamenei, putra yang ditunjuk sebagai penerus kepemimpinan. Hingga akhir prosesi, Mojtaba tak terlihat, dan menurut sumber, ia terluka dalam serangan 28 Februari dan hanya berkomunikasi melalui pernyataan tertulis.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik AS-Iran ini membawa implikasi serius. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki hubungan diplomatik dan ekonomi yang erat dengan Iran, terutama dalam sektor energi dan perdagangan. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan stabilitas harga, yang pada akhirnya berdampak pada anggaran subsidi energi Indonesia. Selain itu, konflik ini dapat memicu gelombang pengungsi baru dan meningkatkan risiko radikalisme di kawasan, mengingat Iran adalah salah satu poros utama Syiah di dunia.
Para analis memperkirakan bahwa situasi ini dapat berubah menjadi perang regional yang melibatkan aktor-aktor non-negara seperti Hizbullah dan milisi pro-Iran di Irak, Suriah, dan Yaman. Jika eskalasi terus berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya akan terpengaruh secara tidak langsung, baik melalui rantai pasokan energi maupun stabilitas keamanan maritim di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
Pertanyaan kritis yang kini mengemuka adalah: akankah pengganti Khamenei mampu mempertahankan kohesi internal Iran di tengah tekanan perang? Atau justru konflik ini akan mempercepat perpecahan di dalam negeri Iran? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan luar negeri Iran dan dinamika keamanan Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.



