Seabad Menanti: Inggris Akhirnya Gelar Tes Wanita Perdana di Lord's
Baca dalam 60 detik
- Nat Sciver-Brunt akan memimpin Inggris dalam laga Tes kandang perdana di Lord's, hanya empat hari setelah kekalahan di final T20 World Cup.
- Pertandingan ini merupakan respons atas kritik ICEC yang menyebut ketiadaan Tes wanita di Lord's sebagai 'memalukan', dengan jeda 150 tahun sejak Tes pria pertama di venue yang sama.
- Jadwal padat dan cedera pemain kunci menjadi tantangan, namun laga ini dianggap sebagai tonggak penting bagi kesetaraan gender dalam kriket Inggris.

Kurang dari sepekan setelah mencetak rekor kehadiran penonton di final T20 World Cup, kriket wanita Inggris kembali menorehkan sejarah: untuk pertama kalinya mereka akan memainkan laga Tes di Lord's, markas besar kriket dunia. Pertandingan melawan India pada Jumat ini menjadi bukti betapa cepatnya perkembangan olahraga ini, meski masih menyisakan kesenjangan yang dalam dengan kategori pria.
Lord's baru saja merayakan Tes pria ke-150 pada musim panas ini. Sementara itu, Heather Knight—pemain internasional sejak 2010—baru akan menjalani Tes ke-15 sepanjang kariernya. Ketimpangan ini menjadi sorotan setelah Independent Commission for Equity Cricket (ICEC) pada 2023 menyebut fakta bahwa Inggris belum pernah menggelar Tes wanita di Lord's sebagai sesuatu yang 'memalukan'. Baru setahun kemudian, pertandingan bersejarah ini masuk kalender.
Pelatih kepala Charlotte Edwards, legenda kriket yang memulai karier dengan rok dan membayar sendiri blazer pertamanya, mengaku terharu. "Tiga puluh tahun lalu mungkin hanya sepuluh orang yang menonton Inggris bermain. Sekarang kami bermain di depan stadion penuh dan di Lord's. Saat pertama saya ke sini, wanita tidak diizinkan masuk," kenangnya dalam wawancara dengan BBC Woman's Hour.
Namun, euforia ini diiringi sejumlah tantangan. Jadwal pertandingan yang berdekatan dengan final World Cup—hanya berselang empat hari—membuat persiapan menjadi singkat. Apalagi, laga ini tidak tergabung dalam rangkaian multi-format seperti kebanyakan Tes wanita, sehingga terkesan seperti 'sisipan' di kalender. Sciver-Brunt sendiri masih dalam pemulihan cedera betis yang membuatnya absen di tiga pertandingan grup World Cup dan belum bisa melempar bola penuh.
Komposisi skuad Inggris pun tidak biasa. Beberapa pemain World Cup diistirahatkan, termasuk wakil kapten Charlie Dean yang justru dimasukkan dalam skuad Somerset untuk T20 Blast pada hari yang sama. Empat wajah baru—Ellie Threlkeld, Tilly Corteen-Coleman, Mady Villiers, dan Grace Potts—masuk skuad, namun ketidakmampuan Sciver-Brunt untuk bowling membuat keseimbangan tim dipertanyakan. Dengan cuaca panas yang diperkirakan, Inggris kemungkinan akan memainkan dua spinner, tetapi pilihan antara Corteen-Coleman yang rapuh di batting atau Villiers yang jarang tampil internasional menjadi dilema.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, momen ini menjadi pengingat betapa panjangnya perjalanan menuju kesetaraan gender dalam olahraga. Di negara yang masih berjuang mengembangkan kriket wanita, Lord's menjadi simbol bahwa perubahan bisa terjadi—meski lambat. Pertanyaan yang tersisa: akankah momentum ini bertahan, atau hanya menjadi seremoni sesaat di tengah jadwal yang terus mendesak?



