Strategi Unik Calon BN di Perling: Isteri Fasih Mandarin Jadi Senjata Politik
Baca dalam 60 detik
- Calon Barisan Nasional di Perling, B. Pannir Selvam, mengerahkan ayah dan isterinya yang fasih berbahasa Mandarin untuk merebut suara etnis Tionghoa.
- Ini kali pertama MIC bertarung di kursi mayoritas Tionghoa di Johor, menandai pergeseran strategi koalisi.
- Pertarungan tiga calon di Perling akan menjadi uji kekuatan elektoral antar koalisi besar Malaysia.

JOHOR BARU โ Seorang mantan anggota dewan kota di Johor memanfaatkan kemampuan berbahasa Mandarin sang istri sebagai daya tarik utama dalam kampanye politiknya, sebuah langkah yang jarang terjadi di tengah dominasi etnis Tionghoa di daerah pemilihan Perling. B. Pannir Selvam, kandidat berusia 54 tahun dari Barisan Nasional (BN), tidak hanya mengandalkan pengalamannya sebagai konselor selama lebih dari satu dekade, tetapi juga melibatkan keluarga inti untuk menjembatani kesenjangan budaya dengan pemilih.
Isterinya, M. Nirmala, yang sehari-hari bekerja di sektor swasta, mengambil cuti dua minggu penuh untuk bergabung dalam tim kampanye. Kemampuannya bercakap dalam bahasa Mandarin menjadi perhatian khusus, mengingat Perling merupakan daerah dengan komposisi pemilih Tionghoa mencapai 46,79 persen. Sementara itu, ayah Pannir, Datuk KS Balakrishnan, yang pernah menjabat anggota dewan negara bagian Johor selama lima periode, turun langsung menggalang dukungan, terutama di kawasan pemilih India yang mencapai 13,46 persen.
โSambutan dari pemilih sangat menggembirakan. Saya juga mendatangi kawasan Melayu. Target saya adalah bertemu ribuan pemilih setiap hari agar mereka lebih mengenal saya,โ ujar Pannir, yang juga pernah menjabat sebagai anggota dewan kota selama 10 tahun. Ia menambahkan bahwa meskipun kursi ini mayoritas Tionghoa, ia berharap pemilih memberinya kesempatan untuk melayani, mengingat rekam jejaknya sebagai pelayan publik.
Langkah BN mencalonkan kader MIC di kursi mayoritas Tionghoa merupakan pertama kalinya dalam sejarah politik Johor. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran strategi koalisi untuk merambah basis pemilih yang selama ini cenderung mendukung partai oposisi. Pannir menekankan pentingnya semangat โBangsa Johorโ yang mempersatukan seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama atau etnis. Konsep ini, menurutnya, sudah terbukti dalam kehidupan sehari-hari di rumahnya, di mana orang-orang dari berbagai keyakinan berkumpul dan berbaur dengan bebas.
Di balik strategi personal ini, Pannir juga menyoroti sejumlah persoalan konkret yang dihadapi konstituen, seperti kemacetan lalu lintas, kesulitan parkir, dan kebutuhan perumahan rakyat. Ia tinggal di Bandar Baru Uda, salah satu kawasan padat di Perling, sehingga klaimnya tentang pemahaman terhadap masalah lokal cukup kredibel. Ayahnya, yang kini berusia 84 tahun, tetap aktif turun ke lapangan meskipun usia senja. โSaya belajar politik dari ayah saya, yang banyak membantu orang selama menjabat sebagai anggota dewan eksekutif negara bagian selama empat periode,โ kenang Pannir.
Pertarungan di Perling dipastikan sengit. Selain Pannir, dua kandidat lain yang bertarung adalah Alan Tee dari Pakatan Harapan dan Boo Wei Han dari Parti Bersama Malaysia. Ketiganya mewakili spektrum politik yang berbeda, menjadikan kursi ini sebagai salah satu medan pertempuran paling menarik dalam pemilihan negara bagian Johor. Pertanyaannya, apakah strategi โkeluargaโ dan kemampuan berbahasa Mandarin sang istri cukup untuk menggeser dominasi oposisi di daerah yang selama ini menjadi basis mereka? Atau justru pemilih Tionghoa akan tetap setia pada partai yang selama ini mereka dukung?



