Alumni Tak Kebagian Kursi: Satu Sekolah Dasar di Singapura Tutup Pintu Fase 2A
Baca dalam 60 detik
- Canossa Catholic Primary School menjadi satu-satunya sekolah dasar di Singapura yang tidak menyediakan kursi bagi anak alumni pada Fase 2A pendaftaran P1 2026.
- Total kursi Fase 2A berkurang 867 dari tahun sebelumnya akibat pemangkasan daya tampung oleh Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) menyusul penurunan jumlah siswa.
- Langkah ini diambil untuk mencegah merger atau relokasi sekolah di masa depan, namun memicu persaingan ketat di fase-fase pendaftaran berikutnya.

Untuk pertama kalinya dalam pendaftaran murid baru kelas satu (Primary 1) di Singapura, sebuah sekolah dasar tidak menyediakan satu pun kursi bagi anak-anak alumni pada Fase 2A. Canossa Catholic Primary School, yang tahun lalu masih memiliki 19 kursi kosong di fase yang sama, kini harus menolak semua pendaftar dari kelompok prioritas tersebut.
Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) yang dirilis Rabu (8 Juli) menunjukkan total kursi yang tersedia di Fase 2A menyusut 867 dibandingkan tahun sebelumnya. Pemangkasan ini merupakan bagian dari kebijakan MOE yang memotong daya tampung sebagian besar sekolah dasar negeri karena proyeksi penurunan drastis jumlah siswa pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, pemerintah berharap dapat menghindari merger atau relokasi sekolah yang tidak diinginkan serta menjaga distribusi geografis sekolah yang merata.
Canossa Catholic Primary School memiliki total 120 kursi. Setelah 61 siswa mendaftar di Fase 1 (untuk anak yang memiliki kakak di sekolah yang sama), dan 60 kursi dicadangkan untuk Fase 2B dan 2C, tidak ada lagi ruang tersisa untuk Fase 2A. Fase ini biasanya diperuntukkan bagi anak-anak dari alumni, staf sekolah, anggota komite penasihat atau manajemen sekolah, serta siswa yang pernah bersekolah di taman kanak-kanak MOE yang berada di bawah naungan sekolah tersebut. Sekolah ini juga baru bergabung dengan Canossian School pada 2025 menjadi sekolah dasar reguler yang mendukung siswa dengan gangguan pendengaran sedang hingga berat.
Di luar Canossa, sekolah dengan kursi Fase 2A paling sedikit adalah Pasir Ris Primary School yang hanya menyediakan 17 kursi, turun dari daya tampung total 180 menjadi 150. Sementara itu, sekolah yang paling banyak peminat tahun lalu, Gongshang Primary School, justru menambah daya tampung totalnya sebanyak 40 kursi sehingga kini memiliki 124 kursi Fase 2A, hampir dua kali lipat dari 67 kursi pada 2025. Nanyang Primary, yang sering kelebihan peminat, memangkas daya tampung total dari 390 menjadi 360, sehingga kursi Fase 2A berkurang dari 144 menjadi 125.
Bagi orang tua di Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana tekanan pada sistem pendidikan dasar dapat memicu kebijakan yang kontroversial. Di Singapura, penurunan angka kelahiran memaksa pemerintah untuk menyesuaikan daya tampung sekolah, namun konsekuensinya adalah persaingan yang semakin ketat di fase-fase awal pendaftaran. Di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang masih besar dan distribusi sekolah yang tidak merata, tantangan serupa mungkin akan muncul dalam beberapa dekade mendatang jika tren penurunan angka kelahiran berlanjut.
Pendaftaran Fase 2A akan dibuka pada Kamis pukul 09.00 hingga Jumat pukul 16.30 waktu setempat, dengan hasil diumumkan pada 17 Juli. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah sekolah-sekolah lain menyusul Canossa Catholic Primary School? Atau justru kebijakan ini akan mendorong lebih banyak orang tua untuk mempertimbangkan sekolah-sekolah yang kurang populer demi menghindari fase-fase dengan persaingan sengit?



