Satgas Cartenz Bekuk Perantara Senpi Ilegal Pemasok KKB Papua
Baca dalam 60 detik
- Seorang buronan berinisial AG yang menjadi perantara jual beli senjata api ilegal untuk KKB di Papua ditangkap tanpa perlawanan di Jayapura.
- AG diduga menghubungkan pembeli SP dengan pemasok DK dalam transaksi senjata rakitan laras panjang senilai Rp80 juta dari warga negara asing.
- Penangkapan ini merupakan pengembangan kasus sebelumnya dan diharapkan mengungkap seluruh jaringan distribusi senjata ilegal di Papua.

Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz berhasil menangkap buronan yang menjadi perantara dalam jaringan penjualan senjata api ilegal yang memasok kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Tersangka berinisial AG, yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), ditangkap di depan Rumah Sakit Angkatan Laut, Jayapura, Kamis (9/8) pagi tanpa perlawanan.
Kombes Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, menjelaskan bahwa penangkapan AG merupakan hasil pengembangan penyidikan dari kasus sebelumnya yang menjerat tersangka SP. SP diketahui memiliki afiliasi dengan KKB Kodap Yaligem di Yalimo. AG berperan sebagai perantara antara SP selaku pembeli dengan DK yang menjadi perantara lain dalam transaksi senjata ilegal.
Dari hasil penyidikan, terungkap bahwa pada 4 Maret 2026, AG bersama SP, MM, dan SM bertemu dengan DK untuk membeli satu pucuk senjata api rakitan laras panjang dari seorang warga negara asing. Transaksi tersebut bernilai Rp80 juta. Penangkapan dilakukan setelah penyidik melacak keberadaan AG di kawasan Koya menuju perbatasan Skouw.
Dalam operasi tersebut, petugas juga mengamankan empat orang lain berinisial FCRG, JT, IK, dan MK untuk diperiksa lebih lanjut. Hingga kini, status hukum keempatnya masih didalami. Kombes I Gusti Gde Era Adhinata, Kasatgas Gakkum Operasi Damai Cartenz, menegaskan bahwa penangkapan AG adalah langkah untuk mengungkap seluruh jaringan peredaran senjata api ilegal yang memasok KKB. "Penyidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap semua pihak yang terlibat, termasuk jalur distribusi, sumber pendanaan, dan pemasok senjata," ujarnya.
Kasus ini menyoroti masih maraknya peredaran senjata ilegal di Papua yang memperkuat kelompok separatis. Pemerintah Indonesia terus berupaya memutus rantai pasokan senjata melalui operasi intelijen dan penegakan hukum. Keberhasilan menangkap AG diharapkan membuka celah untuk membongkar jaringan yang lebih luas, termasuk keterlibatan pihak asing.
Ke depan, aparat akan fokus pada pengungkapan sumber pendanaan dan pemasok utama. Pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana jaringan ini terhubung dengan aktor di luar negeri, dan apakah langkah ini cukup untuk menekan aksi kekerasan KKB di Papua.



