Pangkas Rambut Rp5.000, Nasi Padang Rp12.000: Bisnis Kecil yang Menahan Beban Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Di tengah tekanan rupiah dan kenaikan harga pangan, sejumlah usaha mikro di Indonesia memilih tidak menaikkan tarif demi menjaga daya beli pelanggan.
- Lonjakan biaya bahan baku dan energi mendorong banyak pengusaha lain menaikkan harga, namun beberapa pedagang justru mengandalkan volume pelanggan untuk bertahan.
- Ketidakpastian ekonomi dan potensi perubahan regulasi menjadi ancaman bagi model bisnis yang mengandalkan harga murah ini.

Di sebuah gubuk reyot di pinggir jalan raya Bogor, Supriyanto masih setia memangkas rambut dengan tarif Rp5.000 per kepala—harga yang tidak pernah ia ubah sejak 2008. Di tengah inflasi yang menggerus daya beli, pilihannya menjadi penopang kecil namun berarti bagi puluhan pelanggan yang menggantungkan hidup pada upah harian.
Pemuda Barbershop, tempat Supriyanto bekerja, bukanlah satu-satunya usaha yang menolak menaikkan harga di tengah tekanan ekonomi. Feby Aulia, penjual nasi padang keliling di Bogor, juga mempertahankan harga Rp12.000 per porsi sejak 2022, meski bahan baku seperti minyak goreng dan cabai merah terus merangkak naik. Keputusan ini menjadikan warungnya salah satu tujuan makan siang terpadat di kawasan itu, dengan antrean mulai mengular sebelum pukul 11.00.
Fenomena ini muncul di saat data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 43.000 pekerja kehilangan pekerjaan pada semester pertama 2026—melonjak 34 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekonom Achmad Nur Hidayat dari Universitas Pembangunan Nasional Jakarta mengingatkan bahwa angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena hampir 60 persen tenaga kerja Indonesia bergerak di sektor informal yang tidak tercatat dalam statistik resmi.
Di sisi lain, tidak semua pengusaha mampu bertahan. Susilowati, pemilik katering di Jakarta, terpaksa menaikkan harga hingga 10 persen setelah bahan baku melonjak. "Kami sempat bertahan, tapi akhirnya sadar harus memilih antara menaikkan harga atau menurunkan kualitas," ujarnya. Pedagang sate Mulyadi juga menambah Rp1.000 per tusuk, meski menuai keluhan pelanggan setia.
Kebijakan moneter dan fiskal pemerintah memang telah diarahkan untuk menstabilkan rupiah melalui kenaikan suku bunga dan paket stimulus. Namun, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai diperlukan langkah lebih mendasar: "Pemerintah harus memberikan kepastian kebijakan dan kemudahan berusaha untuk menarik investasi yang menciptakan lapangan kerja."
Bagi Supriyanto, filosofi melayani rakyat kecil sudah dipegang sejak 1988, ketika ia memutuskan beralih dari barbershop kelas menengah ke segmen ekonomi bawah. "Kalau saya masih bisa hidup layak sambil membantu orang lain berhemat, itu sudah cukup," katanya. Namun, masa depan usahanya kini terancam oleh rencana penjualan tanah tempat kiosnya berdiri, sementara Feby harus menghadapi risiko perubahan aturan zonasi yang bisa memaksanya pindah.
Pertanyaan besarnya, berapa lama lagi model bisnis yang mengandalkan margin tipis dan volume tinggi ini mampu bertahan di tengah ketidakpastian nilai tukar dan harga komoditas global? Jika tekanan terus berlanjut, bukan tidak mungkin para pahlawan ekonomi kerakyatan ini akhirnya harus menyerah pada kenyataan pahit inflasi.



