Pernyataan Trump tentang Gencatan Senjata Iran Guncang Pasar Global, Minyak Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent melonjak 5,2% ke US$78 per barel setelah Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran 'berakhir', memicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Indeks S&P 500 sempat turun 1,1% namun pulih sebagian, sementara Dow Jones anjlok 576 poin; pasar Eropa dan Asia juga tertekan kecuali Hong Kong yang menguat.
- Kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk inflasi global dan menekan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah serta harga BBM di dalam negeri.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut gencatan senjata dengan Iran 'sudah berakhir' langsung mengguncang pasar keuangan global pada Rabu (9/7). Harga minyak mentah Brent melonjak 5,2 persen ke US$78,02 per barel, sempat menyentuh US$80, sementara indeks saham utama Wall Street dan bursa Eropa kompak tertekan. Kekhawatiran terbesar adalah potensi blokade Selat Hormuz yang dapat menghentikan pasokan minyak dari Teluk Persia, memicu lonjakan inflasi yang lebih tinggi.
Indeks S&P 500 sempat merosot hingga 1,1 persen sebelum memangkas kerugian menjadi 0,3 persen setelah Trump kemudian menyatakan bahwa pertempuran terbaru tidak berarti perang skala penuh. Dow Jones Industrial Average ambles 576,76 poin (1,1 persen) ke 52.348,39, sementara Nasdaq justru ditutup menguat 0,2 persen berkat rebound saham-saham teknologi. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian tinggi di kalangan investor akibat sinyal yang saling bertentangan dari Gedung Putih.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury 10 tahun naik ke 4,57 persen, mendekati level tertinggi sejak perang dengan Iran dimulai. Kenaikan ini menekan sektor properti dan perumahan karena suku bunga hipotek berpotensi ikut terkerek. Saham perusahaan bahan bangunan seperti Builders FirstSource ambles 5,4 persen, diikuti PulteGroup dan D.R. Horton yang masing-masing turun 5,4 persen dan 4,6 persen. Maskapai penerbangan dan operator kapal pesiar juga terpukul oleh kenaikan biaya bahan bakar.
Di tengah tekanan, saham-saham kecerdasan buatan (AI) justru menjadi penopang. Nvidia melesat 3,7 persen dan menjadi pendorong utama penguatan S&P 500. Broadcom juga naik 4,8 persen setelah Apple mengumumkan komitmen multi-tahun senilai lebih dari US$30 miliar untuk komponen khusus. Pergerakan ini meredam aksi jual lebih dalam, meskipun kekhawatiran tentang valuasi AI yang terlalu tinggi masih membayangi.
Pasar Asia bergerak mixed. Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi pengecualian dengan menguat 3 persen, ditopang oleh lonjakan saham startup AI Zhipu (Knowledge Atlas Technology) yang melesat 13,4 persen. Kenaikan ini terjadi di tengah berakhirnya masa lock-up enam bulan bagi investor inti, di mana hampir 70 persen di antaranya berkomitmen untuk tetap bertahan. Sejak debut di Januari, harga saham Zhipu telah meroket lebih dari 1.300 persen.
Konteks Indonesia: Kenaikan harga minyak global menjadi sinyal waspada bagi perekonomian Indonesia. Sebagai importir minyak, setiap kenaikan US$1 per barel dapat menambah beban subsidi energi dan mendorong inflasi. Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan semakin berhati-hati dalam kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, emiten komoditas dan energi di Bursa Efek Indonesia berpotensi diuntungkan, namun risiko volatilitas pasar tetap tinggi.
Ke depan, pasar akan terus mencermati setiap pernyataan dari Washington dan perkembangan di Timur Tengah. Pertanyaan besarnya: akankah Trump benar-benar mengakhiri gencatan senjata, atau hanya taktik negosiasi? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dan stabilitas pasar keuangan global dalam beberapa pekan mendatang.



