Kapal Jepang Rusak Akhirnya Lintasi Selat Hormuz, 18 Kapal Lain Masih Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Kapal kontainer One Majesty milik Mitsui O.S.K. Lines berhasil keluar dari Teluk Persia setelah mengalami kerusakan misterius pada Maret lalu.
- Sebanyak 13 kapal terkait Jepang telah melintasi Selat Hormuz dalam empat hari terakhir, menyisakan 18 kapal dengan sekitar 500 awak yang masih tertahan.
- Pemerintah Jepang terus berupaya mengevakuasi kapal-kapal yang tersisa di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi.

Kapal kontainer berbendera Jepang yang sempat mengalami kerusakan akibat benturan misterius di Teluk Persia akhirnya berhasil melewati Selat Hormuz pada awal Juli, menandai langkah kecil dalam upaya evakuasi puluhan kapal niaga yang masih terperangkap di kawasan tersebut.
Kapal bernama One Majesty milik Mitsui O.S.K. Lines itu mengalami dua lubang pada lambungnya akibat benturan pada 11 Maret lalu. Meski penyebab insiden belum diketahui—apakah serangan atau kecelakaan—kapal tetap dapat berlayar tanpa risiko kebocoran berarti. Keberhasilannya melintasi selat sempit itu menjadi sinyal bahwa rute pelayaran utama dunia perlahan mulai terbuka kembali.
Menurut data dari Asosiasi Pemilik Kapal Jepang, sebanyak 13 kapal terkait Jepang telah melintasi Selat Hormuz antara 4 hingga 7 Juli. Dari jumlah itu, lima kapal diumumkan langsung oleh Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Yasushi Kaneko dalam konferensi pers, sementara delapan lainnya dikonfirmasi kemudian oleh asosiasi. Tidak ada laporan masalah kesehatan di antara awak kapal yang berhasil keluar.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada akhir Februari lalu merupakan respons atas serangan pendahuluan Amerika Serikat. Langkah itu langsung menghentikan lalu lintas kapal niaga, termasuk 45 kapal terkait Jepang yang saat itu berada di dalam Teluk Persia. Situasi ini menempatkan Jepang—negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah—dalam posisi rentan. Hingga kini, 18 kapal dengan sekitar 500 awak masih menunggu giliran untuk keluar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara maritim dengan lalu lintas pelayaran yang padat melalui Selat Malaka, stabilitas Selat Hormuz sangat memengaruhi harga komoditas dan biaya logistik. Ketegangan di Timur Tengah kerap memicu lonjakan harga minyak dunia yang berimbas pada harga BBM dan bahan pokok di dalam negeri. Selain itu, Indonesia juga memiliki awak kapal yang bekerja di kapal-kapal asing, termasuk yang mungkin terlibat dalam situasi serupa.
Pemerintah Jepang terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mempercepat evakuasi kapal-kapal yang tersisa. “Keselamatan kapal, terutama awak kapal, adalah prioritas utama,” tegas Menteri Kaneko. Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan seluruh kapal bisa bebas sepenuhnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Iran akan membuka penuh Selat Hormuz atau justru memperketat blokade jika ketegangan dengan AS meningkat lagi. Bagi Jepang dan negara pengimpor energi lainnya, setiap hari penundaan berarti risiko pasokan dan tekanan ekonomi yang semakin besar.



