Piala Dunia 2026 Jadi Batu Loncatan: Volpato Buka Peluang ke Fiorentina
Baca dalam 60 detik
- Cristian Volpato, gelandang Australia berdarah Italia, mengaku tertarik bergabung dengan Fiorentina setelah tampil impresif di Piala Dunia 2026.
- Penampilannya di turnamen meningkatkan nilai jualnya di bursa transfer, dengan Fiorentina disebut sebagai peminat utama yang bisa mempertemukannya kembali dengan pelatih Fabio Grosso.
- Kepindahan ke Fiorentina berpotensi menguntungkan Sassuolo, yang harus membagi 15 persen biaya transfer ke Roma sesuai klausul penjualan sebelumnya.

Gelandang serang Australia, Cristian Volpato, secara terbuka menyatakan ketertarikannya bergabung dengan Fiorentina setelah penampilan gemilangnya di Piala Dunia 2026 berakhir. Pemain berusia 22 tahun itu mengakui bahwa La Viola adalah klub besar yang menarik, meskipun ia masih terikat kontrak dengan Sassuolo.
Volpato, yang lahir di Australia dari orang tua keturunan Italia, memutuskan membela Socceroos di Piala Dunia 2026 setelah sebelumnya memperkuat tim muda Italia. Keputusan itu membuahkan hasil: ia menjadi salah satu pemain kunci Australia yang nyaris melaju ke babak 16 besar, sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Mesir pada babak 32 besar.
“Saya merasa kami mendominasi pertandingan dan kecewa karena kami sudah memberikan segalanya,” ujar Volpato kepada Diretta.it dan Gazzetta dello Sport. “Saya bangga dengan rekan setim, staf, dan seluruh negeri yang bangun jam 4 pagi untuk menonton kami. Detail kecil yang membuat perbedaan.”
Penampilan Volpato di panggung dunia tidak hanya membanggakan Australia, tetapi juga meningkatkan pamornya di bursa transfer. Sassuolo, klub Serie B yang menaunginya, diperkirakan akan melepasnya pada musim panas ini. Fiorentina muncul sebagai kandidat terdepan, terutama karena pelatih Fabio Grosso—yang pernah menangani Volpato di Sassuolo—kini menukangi La Viola.
Fiorentina sendiri mengalami musim yang sulit di Serie A, namun Volpato melihat potensi besar di klub tersebut. “Fiorentina adalah klub hebat. Mereka punya pemain bagus, Viola Park adalah fasilitas kelas atas, dan saya juga kenal baik dengan pelatih,” katanya. “Ada banyak alasan untuk memilih mereka, tetapi saat ini saya masih pemain Sassuolo.”
Kepindahan Volpato ke Fiorentina bisa menjadi langkah strategis bagi kedua belah pihak. Bagi Fiorentina, ia adalah gelandang muda kreatif yang bisa menjadi investasi jangka panjang. Bagi Sassuolo, penjualan Volpato akan memberikan keuntungan finansial, meskipun sebagian harus dibagi dengan Roma. Sementara bagi Volpato sendiri, bergabung dengan klub sekelas Fiorentina dan bekerja sama lagi dengan Grosso adalah kesempatan emas untuk mengembangkan kariernya.
Langkah Volpato memilih Australia ketimbang Italia di level internasional juga menarik disorot. Keputusan itu, meski tidak mudah, terbukti tepat karena memberinya menit bermain di Piala Dunia. “Ini Piala Dunia pertama saya dan saya bahagia, bangga pada diri sendiri dan keluarga. Itu bukan pilihan mudah, tapi saya merasa itu yang benar,” ungkapnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Volpato bisa menjadi cerminan bagaimana pemain diaspora bisa memilih negara asal leluhurnya atau negara kelahirannya. Fenomena ini kerap terjadi di Indonesia, di mana pemain keturunan Belanda atau Belanda-Indonesia memilih membela Timnas Indonesia. Volpato memilih Australia, negara kelahirannya, dan sukses menembus Piala Dunia—sebuah pelajaran bahwa keputusan karier dan kebangsaan harus diambil dengan keyakinan penuh.
Kini, setelah Piala Dunia usai, Volpato akan berlibur dan menyerahkan urusan transfer kepada agennya. Pertanyaan besarnya: akankah Fiorentina benar-benar merekrutnya, atau justru klub lain yang bergerak lebih cepat? Yang jelas, nama Cristian Volpato kini masuk dalam radar klub-klub Eropa, dan masa depannya akan menjadi salah satu cerita menarik di bursa transfer musim panas ini.



