BRI Salurkan KUR Tembus Rp 1.500 Triliun, Jadi Motor UMKM Nasional
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) lebih dari Rp 1.500 triliun sejak 2015, dengan target tambahan Rp 180 triliun pada 2026.
- Di tengah ketidakpastian global, perbankan nasional mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) 10,8% year-on-year menjadi Rp 9.698,7 triliun pada Mei 2026.
- BRI mengandalkan jaringan ekosistem keuangan dan layanan BRIlink untuk mendorong UMKM naik kelas, sejalan dengan program prioritas pemerintah.

Sepanjang satu dekade terakhir, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) telah mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai lebih dari Rp 1.500 triliun. Angka tersebut menjadikan BRI sebagai tulang punggung pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung hingga 2026.
Group CEO BRI, Hery Gunardi, dalam acara Economic Update yang digelar pekan ini mengungkapkan bahwa peran perbankan sebagai lembaga intermediasi semakin krusial. Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perbankan nasional pada Mei 2026 tumbuh 10,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 9.698,7 triliun, menurut catatan Bank Indonesia. Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan masih tinggi, meskipun suku bunga acuan telah naik 100 basis poin menjadi 5,75%.
Hery menegaskan, di tengah gejolak geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan global, perbankan Indonesia tetap kokoh. Kredit tumbuh double digit, DPK meningkat 10%, dan rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga. Strategi penekanan biaya dana (cost of fund) menjadi salah satu kunci menjaga margin di tengah kenaikan BI Rate dan yield Surat Berharga Negara (SBN). Meski likuiditas masih longgar, perbankan tetap waspada terhadap potensi pengetatan pasar ke depan.
Bagi Indonesia, UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Oleh karena itu, kelancaran penyaluran KUR menjadi indikator vital bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional. BRI, sebagai bank dengan portofolio UMKM terbesar, tidak hanya menyalurkan kredit tetapi juga membangun ekosistem keuangan inklusif melalui layanan BRIlink. Jaringan ini memungkinkan transaksi keuangan hingga ke pelosok desa, sekaligus mendorong usaha mikro untuk naik kelas.
Menurut analis perbankan, target KUR Rp 180 triliun pada 2026 menunjukkan optimisme BRI terhadap prospek sektor riil. Namun, tantangan tetap ada, seperti daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya dan risiko gagal bayar di segmen usaha mikro. Hery Gunardi optimistis bahwa dengan pendekatan tepat sasaran dan pengelolaan risiko yang ketat, BRI mampu menjaga kualitas kredit tetap sehat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kebijakan moneter dan fiskal pemerintah akan mendukung akselerasi KUR tanpa mengorbankan stabilitas sistem keuangan. Dengan likuiditas yang masih longgar, perbankan memiliki ruang untuk terus mendorong kredit produktif, namun kewaspadaan terhadap gejolak eksternal tetap diperlukan.



