ATP Dituding Mau Bunuh Ganda: Hadiah Dipangkas, Kuota Peserta Dipotong
Baca dalam 60 detik
- Para pemain ganda elite menuduh ATP merancang pemangkasan drastis jumlah peserta dan hadiah uang mulai 2028, yang disebut akan mematikan profesi ganda.
- Usulan itu mencakup pengurangan hadiah ganda dari 20% menjadi 10% dari total prize money, serta pembatasan jumlah peserta di turnamen ATP 1000 dan level bawah.
- Jika diterapkan, pemain ganda di luar 30 besar dunia dinilai mustahil bertahan secara finansial, memicu kekhawatiran tentang masa depan cabang olahraga ini.

Ketegangan antara para pemain ganda dan penyelenggara ATP Tour mencapai titik didih. Dalam sebuah pertemuan di Wimbledon pekan ini, para pemain ganda papan atas menuduh ATP berupaya mengakhiri profesi ganda sebagai karier yang layak dengan serangkaian usulan perubahan radikal yang akan mulai berlaku pada 2028.
Usulan tersebut mencakup pemotongan jumlah peserta turnamen ganda hingga setengahnya. Pada turnamen ATP 1000, hanya 16 tim yang akan diizinkan bertanding, sementara di turnamen yang lebih kecil jumlahnya menyusut menjadi delapan tim. Lebih jauh lagi, porsi hadiah uang untuk pemain ganda direncanakan turun dari 20 persen menjadi 10 persen, dengan dana yang dialihkan ke sektor tunggal.
"Ganda bukanlah pertunjukan sampingan karnaval," demikian pernyataan bersama para pemain. "Ini adalah salah satu bagian paling sukses dari tenis, integral dalam permainan amatir, dan memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Namun, dampak dari proposal ATP akan mengurangi keunggulan olahraga ganda profesional dan memutus jalur pasokan pemain ganda serta seluruh infrastruktur yang mendukung mereka."
Para pemain menekankan bahwa ganda bukanlah pilihan kedua yang mereka jalani secara kebetulan. "Ganda selalu menjadi bagian dari identitas olahraga ini, bukan versi diskonnya," tegas mereka.
Perbandingan hadiah di Indian Wells tahun ini menjadi ilustrasi nyata kesenjangan. Jannik Sinner, juara tunggal, membawa pulang $1,151 juta, sementara pasangan ganda Guido Andreozzi dan Manuel Guinard masing-masing hanya memperoleh $234.000. Jika usulan baru diterapkan, celah itu akan semakin melebar.
"Hitung sendiri artinya bagi siapa pun di luar 30 besar: mustahil untuk mencari nafkah," lanjut pernyataan pemain. "Ini bukan penyesuaian kecil. Ini adalah rencana untuk mengakhiri ganda sebagai profesi yang layak, dikemas sebagai langkah penghematan, dan didorong dengan hampir tanpa transparansi dan konsultasi dengan pemain yang karier serta penghidupannya dipertaruhkan."
Di sisi lain, ATP beralasan bahwa perubahan ini diperlukan untuk menciptakan model yang lebih berkelanjutan. Juru bicara ATP menyatakan, "Kami menilai produk ganda, ukuran undian, dan distribusi kompensasi pemain dengan tujuan menciptakan model jangka panjang yang lebih berkelanjutan sambil mempertahankan peran penting ganda di tur. Peninjauan ini juga menilai apakah perubahan pada model ganda dapat memungkinkan peningkatan investasi pada hadiah babak awal tunggal, membantu lebih banyak pemain di level tertinggi untuk memenuhi biaya bertanding."
Dalam konteks Indonesia, isu ini relevan mengingat tenis ganda kerap menjadi andalan atlet Tanah Air di ajang internasional, seperti SEA Games atau Asian Games. Jika kebijakan ini diterapkan, peluang petenis ganda Indonesia untuk berkembang dan bersaing di level tertinggi bisa semakin terbatas. Regenerasi pemain ganda dari negara berkembang juga terancam karena minimnya insentif finansial.
Ketegangan ini terjadi di tengah tuntutan para pemain tunggal papan atas yang juga mendesak peningkatan porsi pendapatan Grand Slam untuk hadiah uang dan tunjangan kesejahteraan seperti pensiun dan cuti melahirkan. Pekan ini, para pemain mengakhiri boikot kewajiban media Wimbledon setelah pertemuan konstruktif dengan All England Club.
Pertanyaan besarnya: mampukah ATP menengahi kepentingan yang saling bertabrakan antara sektor tunggal dan ganda tanpa mengorbankan salah satu pilar olahraga ini? Ataukah tenis profesional akan menyaksikan punahnya spesialis ganda dalam satu dekade ke depan?



