Chukwueze Tolak Tawaran Trabzonspor, Pilih Bertahan di Milan demi Buktikan Diri
Baca dalam 60 detik
- Samuel Chukwueze menolak kepindahan senilai โฌ15 juta ke Trabzonspor dan memilih bertahan di AC Milan untuk membuktikan diri di bawah pelatih baru Ruben Amorim.
- Pemain sayap Nigeria itu gagal bersinar di Milan sejak didatangkan dari Villarreal pada 2023, dan masa pinjamannya di Fulham juga tidak berujung permanen.
- Kepergian potensial Rafael Leao dan Christian Pulisic pada bursa transfer musim panas ini membuka peluang bagi Chukwueze untuk mendapatkan lebih banyak menit bermain.

Samuel Chukwueze memilih untuk bertahan di AC Milan meskipun klub Super Lig Turki, Trabzonspor, telah mengajukan tawaran senilai โฌ15 juta. Pemain sayap asal Nigeria itu dikabarkan menolak kepindahan tersebut karena yakin bisa merebut hati pelatih anyar Rossoneri, Ruben Amorim, pada sesi pramusim nanti.
Keputusan Chukwueze ini cukup mengejutkan mengingat performanya yang belum konsisten sejak bergabung dengan Milan pada musim panas 2023. Didatangkan dari Villarreal dengan biaya transfer mencapai โฌ21,1 juta plus bonus hingga โฌ7 juta, pemain berusia 25 tahun itu belum mampu menunjukkan performa terbaiknya di San Siro. Ia hanya mencetak tiga gol dan empat assist dalam 25 pertandingan selama masa pinjaman di Fulham musim lalu, yang membuat klub Premier League itu memutuskan untuk tidak mempermanenkannya dengan opsi pembelian sebesar โฌ25 juta.
Menurut laporan Sport Mediaset, Chukwueze merasa masih memiliki peluang untuk bersaing di skuad utama Milan, terutama dengan potensi kepergian dua pemain sayap andalan, Rafael Leao dan Christian Pulisic, pada bursa transfer musim panas ini. Keduanya dikabarkan diminati sejumlah klub besar Eropa, dan jika hengkang, akan membuka ruang bagi Chukwueze untuk mendapatkan lebih banyak menit bermain. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menolak tawaran Trabzonspor, meskipun Milan sendiri berharap bisa mendapatkan dana segar dari penjualannya.
Bagi pengamat sepak bola Italia, keputusan Chukwueze ini menunjukkan tekad kuat untuk membalikkan keadaan. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Ruben Amorim, pelatih anyar Milan yang dikenal dengan pendekatan taktis yang ketat, diperkirakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap skuadnya. Chukwueze harus bersaing tidak hanya dengan Leao dan Pulisic, tetapi juga dengan pemain sayap lain seperti Alexis Saelemaekers dan Noah Okafor.
Dari sudut pandang Indonesia, pergerakan Chukwueze ini menarik untuk diikuti karena ia merupakan salah satu pemain sayap cepat asal Afrika yang kerap menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda di Tanah Air. Liga Italia sendiri memiliki basis penggemar yang besar di Indonesia, dan nasib Chukwueze di Milan akan menjadi salah satu cerita yang menarik selama bursa transfer musim panas ini. Apakah ia akan mampu memanfaatkan peluang yang ada dan menjadi pemain kunci di bawah asuhan Amorim? Ataukah keputusannya untuk bertahan justru akan membuatnya semakin terpinggirkan? Jawabannya akan mulai terlihat saat pramusim dimulai.



