Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Material Konstruksi: Kontraktor Terjepit, Harga Rumah Terancam
Baca dalam 60 detik
- Harga baja tulangan dan beton siap pakai di Singapura naik lebih dari 10% sejak eskalasi konflik Timur Tengah pada Februari lalu.
- Kontraktor menanggung beban kenaikan biaya, namun pengembang dan pembeli rumah diperkirakan akan merasakan dampaknya dalam jangka panjang.
- Para ahli memperingatkan bahwa tekanan harga material dapat memicu kenaikan harga properti jika konflik berkepanjangan.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah memicu gelombang baru kenaikan harga material konstruksi di Singapura, memaksa para kontraktor untuk beradaptasi dengan apa yang disebut sebagai 'normal baru' biaya tinggi. Data resmi menunjukkan lonjakan signifikan pada harga baja tulangan dan beton siap pakai sejak Februari lalu, menggerus margin keuntungan perusahaan konstruksi dan memicu kekhawatiran akan kenaikan harga rumah di masa depan.
Menurut data Departemen Statistik Singapura, harga baja tulangan tarik tinggi berdiameter 16-32 mm mencapai S$704 per ton pada Mei, naik sekitar 10% dari S$637,10 pada Februari. Sementara itu, harga beton siap pakai melonjak dari S$130 per meter kubik menjadi S$145,60 pada periode yang sama. Kenaikan ini terjadi meskipun rantai pasok global mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Bruce Peng, direktur eksekutif Right Construction, mengungkapkan bahwa perusahaannya kesulitan menahan laju kenaikan biaya. "Dampak utamanya adalah margin keuntungan kami tergerus. Untuk material tertentu, kami sangat bergantung pada pemasok, jadi kami tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa mencoba mengurangi kenaikan harga ini," ujarnya. Sebagai langkah mitigasi, beberapa perusahaan mulai berinvestasi pada sistem penyimpanan baterai dan mesin listrik untuk mengurangi konsumsi solar di lokasi proyek.
Meskipun dampak terhadap proyek yang sedang berjalan masih terbatas, para pelaku industri memperkirakan bahwa lingkungan biaya tinggi ini akan tercermin dalam harga tender di masa depan. Chua Tai Kee, kepala penilai Asosiasi Kontraktor Bangunan Mikro Singapura, mencatat bahwa hanya sebagian kecil proyek yang mengalami keterlambatan, dan itu pun tidak separah saat pandemi COVID-19. "Keterlambatannya hanya hitungan minggu hingga sebulan, bukan setahun seperti dulu," katanya.
Untuk saat ini, kontraktor dan pengembang masih berusaha menyerap kenaikan biaya agar tidak membebani pembeli rumah. Namun, para ahli memperingatkan bahwa strategi ini tidak akan bertahan lama. Profesor Sing Tien Foo dari National University of Singapore Business School menegaskan, "Saya rasa sangat tidak mungkin kontraktor atau pengembang menyerap biaya ini dalam jangka panjang. Pada akhirnya, kenaikan harga material akan memberikan tekanan pada harga perumahan."
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok global. Meskipun Indonesia tidak mengalami lonjakan harga material separah Singapura, ketergantungan pada impor bahan baku konstruksi seperti baja dan aspal membuat pasar domestik tetap rentan terhadap gejolak geopolitik. Kenaikan harga material di tingkat global berpotensi mendorong kenaikan harga properti di kota-kota besar Indonesia, terutama jika konflik Timur Tengah terus berlanjut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah berapa lama konflik ini akan bertahan. Jika ketegangan mereda, harga material mungkin akan stabil, tetapi jika konflik berkepanjangan, tekanan pada biaya konstruksi dan harga rumah akan semakin tak terhindarkan. Para pemangku kepentingan di industri konstruksi dan properti perlu bersiap menghadapi skenario terburuk: era baru biaya tinggi yang mungkin menjadi permanen.



