Laut Mereka 'Hilang' Akibat Proyek Pelabuhan: 52 Penyelam Tradisional Korea Turun ke Jalan
Baca dalam 60 detik
- Puluhan haenyeo, penyelam tradisional Korea, berunjuk rasa di Seoul menuntut ganti rugi atas proyek renovasi Pelabuhan Homigot yang disebut menghancurkan ekosistem laut.
- Proyek senilai lima tahun yang digarap Ssangyong E&C itu membuat tangkapan harian para penyelam merosot drastis dari 10 kg menjadi hanya 2 kg, mengancam mata pencaharian mereka.
- Kontraktor membantah bertanggung jawab secara hukum, sementara para haenyeo berjanji akan terus berjuang hingga ke parlemen dan istana presiden.

Lima puluh dua perempuan paruh baya hingga lanjut usia duduk berdesakan di atas tikar di luar gedung pencakar langit di distrik Songpa, Seoul, Selasa (30/6) siang. Mereka mengenakan handuk putih di kepala dan ikat kepala merah bertuliskan 'Ganti Rugi Kerusakan'. Spanduk di tangan mereka bertuliskan: 'Mata pencaharian kami dirampas. Ganti rugi kerusakan!' Mereka adalah haenyeo, penyelam tradisional Korea Selatan yang menggantungkan hidup pada laut selama puluhan tahun.
Para haenyeo itu datang dari Homigot, sebuah desa nelayan di Pohang, Provinsi Gyeongsang Utara, menempuh perjalanan lebih dari 300 kilometer ke ibu kota. Mereka menuntut kompensasi atas proyek renovasi Pelabuhan Homigot yang berlangsung dari April 2021 hingga Juni 2026. Proyek yang digarap Ssangyong Engineering & Construction (Ssangyong E&C) atas perintah Kantor Regional Kelautan dan Perikanan Pohang itu mencakup pembongkaran dan pembangunan ulang pemecah gelombang yang sudah tua.
Boo Soon-rok, 78 tahun, salah satu penyelam, menggambarkan laut sebagai 'sawah, ladang, dan bank' bagi mereka. Sebelum proyek dimulai, hasil menyelam sehari cukup untuk membeli beras dan membayar tagihan. Kini, ekosistem laut mulai lenyap. โKami bingung bagaimana akan menghidupi diri sendiri ke depan karena tidak bisa meminta anak-anak,โ ujarnya kepada The Korea Herald.
Seo Chun-sun, 70 tahun, menambahkan bahwa dulu dalam sehari ia bisa membawa pulang hingga 10 kilogram hasil laut. Sekarang, bahkan di hari baik, ia hanya mendapat 2 kilogram. โBagaimana kami bisa hidup seperti ini? Kami mencari nafkah dari laut, jika tidak ada yang bisa dipanen, tidak ada yang bisa diperoleh,โ keluhnya. Banyak dari perempuan ini adalah pencari nafkah utama keluarga, sementara suami mereka menganggur atau hanya bekerja musiman.
Para haenyeo meyakini bahwa perubahan lokasi konstruksi yang berulang kali dan pembangunan ulang pemecah gelombang telah merusak dasar laut, menghancurkan habitat berbatu tempat spesies laut berkembang biak. โMereka tidak memindahkan konstruksi hanya sekali. Mereka terus menggesernya dari satu tempat ke tempat lain. Setiap kali, lebih banyak dasar laut yang rusak,โ kata Seo Chun-sun.
Upaya mediasi dengan pihak kontraktor belum membuahkan hasil. Seo Na-hyun, 60 tahun, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan eksekutif Ssangyong E&C pada Senin (29/6) hanya menghasilkan pernyataan bahwa perusahaan tidak bisa memberikan kompensasi sama sekali. โKami datang berharap setidaknya mendapat kompensasi atau setidaknya cetak biru kompensasi. Tapi perusahaan bilang tidak ada kompensasi sama sekali. Itu yang membuat frustrasi,โ katanya. Sebelumnya, para penyelam memperoleh sekitar 1 juta won (sekitar Rp11,5 juta) per bulan, dengan potongan komisi 300.000 won untuk koperasi.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Ssangyong E&C menyatakan bahwa perusahaan memahami frustrasi para penyelam, tetapi menekankan bahwa kompensasi adalah tanggung jawab pemilik proyek, bukan kontraktor. Perusahaan memenangkan proyek publik melalui proses tender dan melaksanakan konstruksi sesuai kontrak. โKami tidak melakukan konstruksi yang cacat atau menyebabkan polusi lingkungan,โ kata pejabat tersebut.
Anggota parlemen oposisi Lee Sang-hwi, yang mewakili daerah pemilihan Pohang, sempat menemui para penyelam dan pejabat perusahaan. Namun, ia hanya berkomentar, โIni masalah yang sangat rumit. Saya akan memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu menyelesaikannya.โ
Jika kebuntuan terus berlanjut, para haenyeo berjanji akan terus berjuang, membawa protes ke Majelis Nasional, Istana Kepresidenan Cheong Wa Dae, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. โSemakin cepat perusahaan datang ke meja perundingan dan mendiskusikan kompensasi, semakin mudah bagi semua orang,โ ancam Seo Na-hyun. Boo Soon-rok menegaskan bahwa mereka tidak meminta sumbangan, melainkan kompensasi karena kehilangan mata pencaharian. โJika seseorang mengambil rumah atau alat mencari nafkah Anda, mereka harus bertanggung jawab,โ katanya.
Meski beberapa penyelam kini mencari nafkah di desa nelayan tetangga, Boo mengakui bahwa perairan itu tidak akan pernah bisa menggantikan Homigot. โKami masih bisa mencari nafkah di tempat lain. Tapi tidak sama. Ini laut kami,โ ujarnya lirih. Pertanyaan besarnya kini: akankah pemerintah dan kontraktor mau bertanggung jawab, atau tradisi haenyeo yang telah diakui UNESCO itu perlahan akan tenggelam?



