Pelatih Bosnia: Perjalanan di Piala Dunia Layak Diapresiasi
Baca dalam 60 detik
- Bosnia dan Herzegovina tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-2 dari tuan rumah Amerika Serikat.
- Pelatih Sergej Barbarez menegaskan kebanggaannya terhadap tim yang baru pertama kali lolos ke fase gugur, meski gagal melaju lebih jauh.
- Keberhasilan Bosnia menyingkirkan Italia di babak kualifikasi menjadi pencapaian bersejarah yang patut dirayakan.

Pelatih tim nasional Bosnia dan Herzegovina, Sergej Barbarez, meminta para pemainnya tetap bangga meski langkah mereka di Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak 32 besar. Kekalahan 0-2 dari tuan rumah Amerika Serikat di Santa Clara, California, pada Rabu (1/7) waktu setempat, tidak mengurangi makna perjalanan tim di turnamen akbar tersebut.
Bagi Bosnia, tampil di fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah merupakan pencapaian monumental. Sebelumnya, mereka harus melewati babak play-off yang ketat untuk merebut tiket ke putaran final yang diikuti 48 tim. Dalam perjalanan itu, Bosnia secara mengejutkan menyingkirkan Italia, mantan juara dunia, yang gagal melaju ke Amerika Serikat.
Di fase grup, Bosnia menunjukkan performa yang patut diperhitungkan. Mereka bermain imbang melawan Kanada—yang juga bertindak sebagai tuan rumah—dan berhasil mengalahkan Qatar. Satu-satunya kekalahan di grup diderita dari Swiss. Hasil tersebut cukup membawa mereka lolos sebagai salah satu runner-up terbaik, mengukir sejarah baru bagi sepak bola Bosnia.
"Saya benar-benar bangga pada mereka," ujar Barbarez usai pertandingan. "Ini adalah hasil yang harus kita rayakan, bukan disesali. Inilah bagian dari hidup, bagian dari sepak bola, terutama di kompetisi sebesar ini." Pelatih berusia 52 tahun itu menekankan bahwa perjuangan anak asuhnya layak mendapat apresiasi, meskipun mereka harus mengakui keunggulan Amerika Serikat yang tampil lebih efektif.
Dalam laga melawan AS, Bosnia diakui melakukan sejumlah kesalahan fatal dan kesulitan menciptakan peluang. Penguasaan bola yang minim membuat mereka tidak mampu mengembangkan permainan. Namun, Barbarez menilai semangat juang pemainnya tetap patut diacungi jempol. "Meski tertinggal dua gol, hati saya benar-benar penuh saat melihat mereka berjuang. Ini benar-benar indah, dan saya adalah pelatih paling bangga di dunia saat ini," tambahnya.
Bagi sepak bola Indonesia, perjalanan Bosnia ini bisa menjadi inspirasi. Negara dengan populasi sekitar 3,5 juta jiwa itu mampu bersaing di panggung tertinggi sepak bola dunia meski bukan unggulan. Keberhasilan mereka menembus fase gugur menunjukkan bahwa perencanaan jangka panjang dan pembinaan yang konsisten dapat membuahkan hasil, bahkan bagi negara yang tidak memiliki tradisi sepak bola sekelas Brasil atau Jerman.
Barbarez juga menyampaikan antusiasmenya untuk kembali ke Bosnia dan bertemu langsung dengan para pendukung. "Pesan video memang bagus, panggilan telepon juga hebat, tetapi berada di tengah-tengah masyarakat, hanya saat itulah kita akan benar-benar mengerti seberapa besar arti pencapaian ini," katanya. Ia yakin sambutan hangat dari publik akan menjadi momen emosional yang memperkuat ikatan antara tim dan bangsa.
Ke depan, Bosnia dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan konsistensi. Setelah sukses di Piala Dunia 2026, ekspektasi terhadap tim akan meningkat. Pertanyaan besarnya adalah apakah mereka mampu kembali lolos ke turnamen berikutnya dan bahkan melangkah lebih jauh. Bagi Barbarez, yang terpenting saat ini adalah menikmati pencapaian yang telah diraih sambil terus membangun fondasi untuk masa depan.



