IHSG Melonjak 1,22% Dekati 5.800 di Tengah Tekanan Data Ekonomi Domestik
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,26% dan melesat hingga 1,22% ke level 5.764 pada perdagangan Kamis (2/7/2026), mendekati level psikologis 5.800.
- Kenaikan terjadi di tengah data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan, termasuk defisit neraca dagang pertama dalam enam tahun dan inflasi Juni yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
- Pergerakan IHSG kontras dengan bursa Asia yang mayoritas melemah, dipimpin Kospi Korea Selatan yang anjlok 5,36% akibat aksi ambil untung di saham teknologi global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan momentum penguatannya pada awal perdagangan Kamis (2/7/2026), menembus level 5.764 atau naik 1,22% hanya dalam 16 menit pertama perdagangan, mendekati level psikologis 5.800 yang sempat hilang dalam sepekan terakhir.
Pada pukul 09.16 WIB, IHSG tercatat di posisi 5.764, dengan level tertinggi intraday mencapai 5.773,48. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp1,68 triliun dari 2,78 miliar saham yang diperdagangkan dalam 200 ribu kali transaksi. Sebanyak 356 saham menguat, 162 saham melemah, dan 165 saham stagnan. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, BRPT, dan TPIA menjadi motor transaksi terbesar.
Penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan data ekonomi domestik yang dirilis dalam dua hari terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar. Defisit ini mengingatkan pada April 2020 saat pandemi, ketika defisit sebesar US$0,38 miliar tercatat.
Di sisi lain, inflasi Juni 2026 tercatat 0,44% secara bulanan (mtm), lebih tinggi dibanding Mei yang sebesar 0,28% mtm. Inflasi tahun kalender mencapai 1,79% dan inflasi tahunan 3,34%. Angka ini masih dalam kisaran target Bank Indonesia, namun memberikan sinyal tekanan harga yang meningkat. Belum lagi, data PMI Manufaktur yang ambruk dan pandangan hawkish The Fed turut membayangi.
Sementara itu, bursa Asia-Pasifik bergerak melemah. Kospi Korea Selatan anjlok 5,36% pada pembukaan, memicu Korea Exchange (KRX) menghentikan perdagangan selama lima menit untuk meredam volatilitas. Kosdaq juga turun 3,55%. Di Jepang, Nikkei 225 melemah 0,70%, meski Topix masih menguat tipis 0,13%. Australia melalui S&P/ASX 200 terkoreksi 0,59%. Pelemahan ini mengikuti aksi ambil untung di Wall Street, di mana Dow Jones sempat menembus rekor intraday sebelum ditutup stagnan, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,2% dan 0,7%, dipicu oleh aksi jual saham semikonduktor.
Bagi investor Indonesia, pemisahan pergerakan IHSG dari bursa regional patut dicermati. Sentimen domestik yang bercampurโantara data ekonomi yang lemah dan ekspektasi stimulus fiskalโmenjadi faktor utama. Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan hari ini juga akan menjadi katalis penting, terutama terkait arah suku bunga global yang mempengaruhi aliran modal asing.
Ke depan, IHSG masih menghadapi ujian: mampukah bertahan di atas level 5.700 jika tekanan eksternal kembali menguat? Atau justru data defisit dan inflasi akan mendorong investor asing melakukan aksi jual? Jawabannya akan ditentukan oleh respons kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.



