Kandaskan Belanda, Maroko Buktikan Diri Sebagai Ancaman Serius di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti dari Maroko, mengulang trauma kegagalan di Qatar 2022.
- Maroko, semifinalis edisi sebelumnya, menunjukkan mental juara dengan menyamakan kedudukan di masa injury time sebelum menang adu penalti.
- Kegagalan ini memicu evaluasi taktik Ronald Koeman dan mempertanyakan kesiapan mental Belanda di turnamen besar.

Mimpi Belanda meraih gelar juara Piala Dunia 2026 kembali kandas di tangan Maroko. Kekalahan dramatis melalui adu penalti di babak 16 besar tidak hanya mengulang kenangan pahit Qatar 2022, tetapi juga menegaskan posisi Maroko sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan di panggung sepak bola global.
Pertandingan yang berlangsung sengit itu menyaksikan Belanda unggul lebih dulu melalui gol Cody Gakpo. Namun, Maroko yang dikenal tangguh di momen kritis berhasil menyamakan kedudukan di menit-menit akhir waktu normal, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu dan akhirnya adu penalti. Eksekusi penalti yang sempurna dari para pemain Maroko berbanding terbalik dengan kegagalan dua eksekutor Belanda, memastikan langkah mereka terhenti.
Bek Belanda, Jan Paul van Hecke, mengaku hancur setelah pertandingan. โSaya merasa kosong setelah eliminasi ini. Impian kami adalah memenangkan Piala Dunia, dan melihat semuanya sirna begitu saja sangat menyakitkan,โ ujarnya. Ia juga menyoroti kelelahan fisik yang dialami timnya di babak perpanjangan waktu, yang membuat mereka kesulitan mengimbangi penguasaan bola Maroko.
Dari sudut pandang taktis, pelatih Ronald Koeman sebelumnya telah menekankan pentingnya latihan adu penalti, namun mengakui tekanan psikologis yang sesungguhnya tidak bisa disimulasikan. Kegagalan kali ini kembali mempertanyakan mentalitas tim Oranje di turnamen besar. Sementara itu, Maroko membuktikan bahwa pencapaian mereka di Qatar 2022 bukanlah kebetulan. Tim asuhan Walid Regragui menunjukkan disiplin, ketahanan, dan kemampuan untuk bangkit di saat-saat gentingโkualitas yang jarang dimiliki tim lain.
Bagi Indonesia, keberhasilan Maroko menjadi inspirasi sekaligus pelajaran. Tim Garuda, yang tengah membangun fondasi sepak bola jangka panjang, bisa mencontoh bagaimana Maroko mengembangkan sepak bola berbasis akademi dan mentalitas juara. PSSI dan para pemangku kepentingan sepak bola nasional perlu mencermati bahwa kesuksesan tidak datang instan, melainkan melalui proses panjang dan konsistensi.
Ke depan, Belanda harus melakukan introspeksi mendalam. Apakah masalahnya terletak pada taktik, mentalitas, atau kombinasi keduanya? Sementara Maroko, dengan semangat pantang menyerah, terus melangkah maju dan berpotensi menjadi kuda hitam yang mampu mengguncang peta persaingan Piala Dunia 2026. Satu pertanyaan menggantung: akankah Maroko mampu melampaui pencapaian semifinal mereka di edisi sebelumnya?



