Risiko Besar di Balik Strategi Pemain 'Khusus Penalti' di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Dari sepuluh pemain yang dimasukkan setelah menit 115 di turnamen besar, delapan gagal mengeksekusi penalti.
- Paraguay dan Belanda menjadi korban strategi ini pada babak gugur Piala Dunia 2026, meski Paraguay akhirnya lolos.
- Data Opta mempertanyakan efektivitas taktik memasukkan pemain khusus adu penalti yang mulai marak digunakan.

Babak gugur Piala Dunia 2026 baru saja memasuki malam kedua, dan dua dari tiga pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti. Paraguay mengejutkan Jerman dengan kemenangan 4-3 setelah bermain imbang 1-1, sementara Maroko mengalahkan Belanda 3-2 dalam drama serupa. Namun di balik ketegangan itu, muncul pertanyaan besar: apakah memasukkan pemain khusus untuk adu penalti adalah langkah cerdas atau justru bumerang?
Fenomena memasukkan pemain di menit-menit akhir perpanjangan waktu dengan tujuan mengeksekusi penalti semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Namun data dari Opta menunjukkan bahwa strategi ini lebih sering berakhir dengan kegagalan. Dari sepuluh pemain yang dimasukkan setelah menit ke-115 di Piala Dunia atau Piala Eropa, delapan di antaranya gagal mencetak penalti. Angka ini menjadi peringatan keras bagi para pelatih yang mengandalkan taktik tersebut.
Pada laga Belanda vs Maroko, Justin Kluivert dari Bournemouth dimasukkan pada menit ke-113 dan menjadi salah satu dari tiga pemain Belanda yang gagal mengeksekusi penalti. Di sisi lain, Paraguay yang akhirnya menang juga mengalami nasib serupa: Fabian Balbuena, mantan bek West Ham, masuk pada menit ke-122 dan gagal mencetak penalti, meski timnya tetap melaju. Sementara itu, Jerman yang kalah justru mencatat hasil beragam: Nick Woltemade gagal, tetapi Nadiem Amiri dan Jamal Musiala sukses.
Inggris menjadi contoh menarik dalam penerapan strategi ini. Pada Euro 2024, Gareth Southgate memasukkan Trent Alexander-Arnold dan Ivan Toney pada babak kedua perpanjangan waktu melawan Swiss. Keduanya sukses mencetak penalti dan membawa Inggris ke final. Namun, kedua pemain tersebut dimasukkan sebelum menit ke-115. Sebaliknya, di final Euro 2020, Jadon Sancho dan Marcus Rashford yang masuk terlambat justru gagal, menjadi mimpi buruk bagi Inggris. Jamie Carragher juga pernah mengalami nasib serupa saat Piala Dunia 2006 melawan Portugal.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat sepak bola nasional mulai mengadopsi pendekatan taktis modern. Timnas Indonesia di bawah pelatih Shin Tae-yong kerap melakukan rotasi pemain di menit-menit akhir, meski belum spesifik untuk adu penalti. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pelatih Indonesia akan tergoda menggunakan strategi serupa. Namun data Opta menunjukkan bahwa risikonya sangat tinggi, terutama jika pemain yang dimasukkan tidak memiliki mental baja atau kurang pemanasan.
Ke depan, para pelatih perlu mempertimbangkan ulang efektivitas taktik ini. Apakah lebih baik mengandalkan pemain yang sudah berada di lapangan sejak awal dan memiliki ritme pertandingan, atau tetap nekat memasukkan pemain khusus penalti? Dengan data yang menunjukkan tingkat kegagalan 80%, mungkin sudah saatnya strategi ini ditinggalkan, atau setidaknya dievaluasi secara ketat.



