Taman Monyet Salju Jepang Batasi Pengunjung Akibat Perilaku Tak Terkendali
Baca dalam 60 detik
- Jigokudani Yaen-Koen di Nagano akan membatasi maksimal 2.000 pengunjung per hari mulai Agustus 2025 setelah lonjakan wisatawan asing.
- Insiden negatif seperti memberi makan, menyentuh, hingga berendam bersama monyet memicu kebijakan pembatasan dan pemesanan tiket daring.
- Fenomena overtourism di Jepang, termasuk di Kyoto dan Fujiyoshida, menjadi peringatan bagi destinasi wisata Indonesia yang tengah naik pamor.

Taman Jigokudani Yaen-Koen di Prefektur Nagano, Jepang, yang terkenal dengan pemandangan monyet salju berendam di pemandian air panas alami, akan memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung harian setelah kedatangan wisatawan melonjak drastis dan perilaku tidak sopan kian marak.
Terletak di lembah dengan ketinggian 850 meter, taman ini merupakan habitat alami bagi monyet Jepang (Macaca fuscata) yang kerap terlihat berendam di sumber air panas vulkanik selama musim dingin. Situs resmi taman menyebutnya sebagai "surga monyet" dan satu-satunya tempat di dunia yang menawarkan pemandangan semacam itu. Namun, popularitas ini membawa konsekuensi: jumlah pengunjung, yang sebagian besar adalah wisatawan asing, mencapai 3.000 hingga 4.000 orang per hari.
Seorang pejabat taman yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa antrean panjang di loket tiket menjadi pemandangan sehari-hari. Untuk mengatasi hal ini, taman akan beralih ke sistem pemesanan tiket daring mulai Agustus mendatang, dengan batas maksimal 2.000 orang per hari. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada infrastruktur dan menjaga kenyamanan satwa.
Selain kepadatan, perilaku buruk pengunjung juga menjadi perhatian serius. Beberapa wisatawan nekat memberi makan, menyentuh, bahkan mencoba berendam bersama monyet-monyet liar tersebut. Padahal, interaksi semacam itu dilarang karena dapat mengganggu perilaku alami satwa dan membahayakan keselamatan kedua belah pihak.
Fenomena overtourism ini tidak hanya terjadi di Nagano. Di Kyoto, wisatawan kerap mengganggu geisha yang mengenakan kimono demi foto Instagram. Pada Februari lalu, festival bunga sakura di Fujiyoshida yang menawarkan pemandangan Gunung Fuji dibatalkan setelah warga mengeluhkan kemacetan parah, puntung rokok berserakan, pelanggaran lahan pribadi, hingga buang air sembarangan di kebun warga. Lonjakan wisatawan asing ke Jepang—yang mencapai 42,7 juta pada 2025—memang menguntungkan perekonomian, tetapi juga memicu gesekan dengan masyarakat lokal.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Destinasi wisata seperti Bali, Yogyakarta, atau Labuan Bajo mulai menghadapi tekanan serupa: kerusakan lingkungan, kemacetan, dan perilaku wisatawan yang tidak menghormati budaya setempat. Pemerintah daerah dan pengelola destinasi perlu mengadopsi sistem kuota dan pemesanan daring untuk menjaga keberlanjutan pariwisata. Tanpa langkah antisipatif, bukan tidak mungkin pemandangan monyet salju yang unik di Nagano akan menjadi kenangan belaka, sementara Indonesia justru menghadapi krisis overtourism yang lebih parah.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah pembatasan diperlukan, melainkan seberapa cepat destinasi wisata di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, siap menerapkan kebijakan serupa sebelum kerusakan yang lebih besar terjadi.



