Festival Kuliner Brunei 2026: Panggung Ekonomi Kreatif di Tutong
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Brunei menggelar Food Festival 2026 di Distrik Tutong selama lima hari untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan sektor pariwisata.
- Sebanyak 60 pelaku usaha mikro dan kecil di bidang kuliner berpartisipasi, menawarkan hidangan tradisional hingga modern sebagai ajang promosi dan perluasan pasar.
- Festival ini diharapkan menjadi model pengembangan kawasan yang bisa direplikasi di Indonesia, terutama untuk mendorokonomi kreatif di daerah.

Distrik Tutong, Brunei Darussalam, tengah menjadi pusat perhatian dengan digelarnya Food Festival 2026, sebuah inisiatif strategis untuk menggerakkan roda ekonomi lokal sekaligus mempromosikan kawasan tersebut sebagai destinasi unggulan bagi kegiatan komunitas dan kewirausahaan. Festival yang berlangsung selama lima hari, mulai 24 hingga 28 Juni 2026, ini diikuti oleh 60 vendor yang menyajikan beragam kuliner, mulai dari masakan tradisional khas Brunei hingga kreasi modern yang digemari masyarakat.
Acara yang dibuka secara resmi pada Rabu (24/6) ini tidak sekadar menjadi ajang jual beli makanan. Lebih dari itu, festival ini dirancang sebagai platform strategis bagi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor makanan dan minuman untuk memperluas jaringan bisnis, meningkatkan eksposur merek, dan menjalin hubungan langsung dengan konsumen. Pemerintah Brunei melihat sektor kuliner sebagai salah satu pilar penting dalam diversifikasi ekonomi nasional, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada sektor minyak dan gas.
Bagi Indonesia, gelaran serupa dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan ekonomi kreatif di daerah. Banyak kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki potensi kuliner khas namun belum tergarap maksimal. Festival seperti ini bisa menjadi katalis untuk mengangkat produk lokal, menarik wisatawan, dan menciptakan lapangan kerja baru. Apalagi, sektor kuliner di Indonesia menyumbang lebih dari 40% terhadap produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif, sehingga pengembangan ekosistem serupa sangat relevan.
Menurut pengamat ekonomi kreatif dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wijaya, festival kuliner yang terkurasi dengan baik mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect). "Tidak hanya bagi pedagang, tetapi juga bagi pemasok bahan baku lokal, jasa transportasi, dan sektor perhotelan. Brunei memberikan contoh bagaimana event berskala kecil namun terfokus bisa berdampak signifikan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas menjadi kunci keberhasilan.
Penyelenggara festival berharap kegiatan ini dapat terus berkontribusi pada pertumbuhan bisnis kecil sekaligus mempromosikan Tutong sebagai pusat kegiatan ekonomi dan komunitas yang dinamis. Ke depan, pemerintah Brunei berencana menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang tidak hanya menarik pengunjung lokal tetapi juga wisatawan mancanegara. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru langkah serupa untuk mengangkat potensi kuliner daerahnya?



