Raffi Ahmad Bawa RANS Melantai di Bursa: Dana IPO Disulap untuk Wahana Anak hingga AI
Baca dalam 60 detik
- RANS Entertainment menargetkan raup dana maksimal Rp429 miliar dari IPO dengan harga saham Rp135–170 per unit.
- Sebagian besar dana—37,6%—dialokasikan untuk konser artis lokal dan internasional, sementara 18,6% untuk membangun wahana edukatif Cipungland.
- Kinerja keuangan RANS menunjukkan penurunan laba 41,6% pada 2025, namun IPO dianggap sebagai strategi ekspansi di tengah tekanan pendapatan.

PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS), perusahaan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, resmi membuka masa penawaran awal saham perdana pada 23 Juni 2026. Dengan harga penawaran berkisar Rp135 hingga Rp170 per saham, emiten ini berpotensi mengantongi dana segar maksimal Rp429,25 miliar. Langkah ini menjadi salah satu IPO yang paling dinanti di sektor hiburan Tanah Air, mengingat popularitas figur di belakangnya serta rencana penggunaan dana yang beragam—dari wahana bermain anak hingga kecerdasan buatan.
Dalam prospektus yang dirilis, RANS menawarkan sebanyak 2,52 miliar saham baru, setara 20,02% dari modal ditempatkan setelah IPO. PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi. Jadwal IPO cukup padat: masa penawaran awal berlangsung hingga 25 Juni, efektif pada 30 Juni, penawaran umum pada 2–8 Juli, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026.
Yang menarik perhatian adalah alokasi dana hasil IPO. Sekitar 37,61% atau setara Rp161,4 miliar akan digunakan untuk belanja operasional konser yang menghadirkan artis lokal dan internasional di berbagai kota di Indonesia. Ini menunjukkan ambisi RANS untuk memperkuat posisi sebagai promotor hiburan skala besar. Sementara itu, 18,64% dana dialokasikan untuk pembangunan wahana bermain dan belajar edukatif bernama Cipungland—sebuah proyek yang menyasar segmen keluarga dan anak-anak.
Tak hanya itu, RANS juga menyisihkan 8,15% dana untuk membentuk entitas usaha baru bersama PT Global Teknologi guna mengembangkan bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menandai diversifikasi RANS ke sektor teknologi, meskipun belum dirinci lebih lanjut bentuk kolaborasinya. Sebesar 19,80% dana akan digunakan untuk mengakuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia atau Slavina, memperkuat lini bisnis kecantikan yang sudah dirintis. Sisanya, sekitar 6,98%, dipakai untuk melunasi utang kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Di balik rencana ekspansi yang ambisius, kinerja keuangan RANS justru menunjukkan tren penurunan. Laba tahun berjalan 2025 tercatat Rp56,69 miliar, anjlok 41,6% dibandingkan Rp97,07 miliar pada 2024. Manajemen menjelaskan penurunan ini akibat adanya laba pelepasan entitas anak sebesar Rp44,94 miliar pada 2024 yang bersifat non-recurring. Pendapatan juga terkoreksi 13,91% menjadi Rp353,38 miliar dari sebelumnya Rp410,50 miliar. Segmen duta merek dan talent management menjadi yang paling terpukul, merosot 51,55% menjadi Rp51,93 miliar. Sementara itu, penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan berbasis IP turun 12,69% menjadi Rp107,01 miliar.
Bagi investor Indonesia, IPO RANS menawarkan peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, merek RANS memiliki basis penggemar kuat dan rencana ekspansi yang terdiversifikasi. Di sisi lain, penurunan pendapatan dan laba menunjukkan tantangan bisnis di tengah persaingan industri hiburan yang ketat. Pertanyaan kuncinya: mampukah RANS membalikkan tren dengan dana segar ini, atau justru beban operasional baru akan semakin menekan profitabilitas?



