Kospi Terjun Bebas 2%: Ketegangan AS-Iran Masih Bayangi Pasar Asia
Baca dalam 60 detik
- Indeks Kospi Korea Selatan ambles 2,05% pada Selasa pagi, menjadi yang terburuk di Asia, di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran.
- Pasar Asia bergerak mixed dengan Hang Seng dan ASX 200 menguat tipis, sementara Shanghai dan Nikkei melemah, mencerminkan kehati-hatian investor.
- Stabilisasi harga minyak pasca deeskalasi memberi angin segar bagi IHSG, namun volatilitas geopolitik masih menjadi momok bagi investor domestik.

Indeks saham Korea Selatan, Kospi, memimpin pelemahan bursa Asia pada Selasa pagi (23/6/2026) dengan anjlok lebih dari 2%, menandai kekhawatiran investor yang belum sepenuhnya mereda meski ada sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 08.42 WIB, Kospi ambles 2,05%, menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di kawasan. Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan bursa Asia yang cenderung bervariasi. Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,13% dan ASX 200 Australia menguat 0,04%, sementara Shanghai Composite turun 0,23% dan Nikkei 225 Jepang melemah 0,27%.
Tekanan jual di Seoul mencerminkan sentimen risk-off yang masih membayangi, terutama karena Korea Selatan memiliki eksposur tinggi terhadap perdagangan global dan rantai pasok energi. Konflik di Timur Tengah, khususnya ancaman terhadap Selat Hormuz, menjadi perhatian utama karena dapat mengganggu pasokan minyak dan mendorong biaya energi.
Harga minyak dunia yang sempat terkoreksi tajam mulai menunjukkan pemulihan seiring meredanya ketegangan geopolitik. Pelaku pasar masih memantau perkembangan di Timur Tengah, terutama jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Sinyal deeskalasi dari kedua belah pihak memberikan sedikit kelegaan, namun investor tetap waspada karena situasi bisa berubah sewaktu-waktu.
Menurut analis pasar, pergerakan mixed di Asia menunjukkan bahwa investor masih mencermati dampak konflik terhadap pertumbuhan ekonomi global dan inflasi. Kenaikan harga energi akibat gangguan pasokan berpotensi memperkuat tekanan inflasi di berbagai negara, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral.
βPasar masih dalam mode wait and see. Meski ada harapan deeskalasi, risiko eskalasi kembali tetap tinggi. Investor perlu mencermati data ekonomi dan pernyataan pejabat AS-Iran dalam beberapa hari ke depan,β ujar seorang analis di Seoul.
Konteks Indonesia: IHSG Berpotensi Terdampak
Bagi pasar domestik, stabilisasi harga minyak menjadi angin segar karena dapat meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya energi. IHSG berpotensi mencatat penguatan jika tekanan geopolitik terus mereda. Namun, pelemahan bursa utama Asia seperti Kospi dan Nikkei menjadi sinyal bahwa investor global masih enggan mengambil risiko. Investor Indonesia disarankan untuk mencermati pergerakan harga minyak dan perkembangan diplomasi AS-Iran, karena kedua faktor tersebut dapat mempengaruhi aliran modal asing ke pasar saham Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan kunci yang menggantung adalah apakah deeskalasi ini bersifat sementara atau menjadi awal dari normalisasi hubungan. Jika konflik kembali memanas, bukan tidak mungkin volatilitas pasar akan meningkat kembali, menguji ketahanan IHSG dan mata uang rupiah.



