BI Naikkan Suku Bunga ke 5,75%, IHSG Terjun Bebas ke Level 6.124
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, memicu aksi jual di bursa saham.
- IHSG anjlok 1,55% ke 6.124,32 setelah pengumuman, dengan sektor infrastruktur dan keuangan paling tertekan.
- Aliran modal asing masih tercatat masuk Rp225,83 miliar di sesi pertama, namun tekanan jual diperkirakan berlanjut.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin pada Kamis (18/6/2026) langsung memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,55% ke level 6.124,32 tak lama setelah pengumuman, menandai respons negatif pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
BI memutuskan menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% pada pukul 14.30 WIB, melanjutkan tren pengetatan di tengah tekanan inflasi dan pelemahan rupiah. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan ekspektasi inflasi, namun di sisi lain menekan likuiditas pasar dan meningkatkan biaya pendanaan.
Sebelum pengumuman, IHSG sudah berada di zona merah dengan penutupan sesi pertama di 6.154,92. Setelah kenaikan suku bunga diumumkan, indeks langsung kehilangan lebih dari 30 poin dalam hitungan menit. Penurunan ini dipicu oleh sentimen risk-off, di mana investor cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan obligasi tenor panjang.
Secara sektoral, hampir semua sektor terkoreksi. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan hingga 2,75%, disusul keuangan yang anjlok 1,77% dan kesehatan 1,53%. Satu-satunya sektor yang mampu bertahan adalah industri dasar yang mencatat kenaikan tipis 0,11%, didorong oleh saham-saham komoditas yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah.
Menariknya, meskipun IHSG ambles, aliran modal asing masih tercatat positif. Pada penutupan sesi pertama, terjadi net foreign inflow sebesar Rp225,83 miliar. Ini menunjukkan bahwa investor asing masih melihat peluang di pasar saham Indonesia meskipun ada tekanan jual jangka pendek. Namun, analis memperkirakan bahwa aksi jual bisa berlanjut jika BI kembali menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Bagi investor domestik, kenaikan BI-Rate ini berarti biaya pinjaman akan semakin mahal, sehingga sektor properti dan konsumen berpotensi tertekan. Di sisi lain, sektor perbankan bisa diuntungkan dari spread bunga yang lebih lebar, meskipun risiko kredit macet juga meningkat. Pasar obligasi juga diperkirakan akan mengalami koreksi seiring dengan kenaikan yield.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sinyal dari BI mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Apakah pengetatan akan berlanjut atau mulai melandai? Jawabannya akan sangat menentukan nasib IHSG dalam beberapa pekan ke depan.



