Promosi 'Tank Day' Berujung Interogasi: Polisi Korea Periksa Eksekutif Shinsegae
Baca dalam 60 detik
- Polisi Korea Selatan memeriksa kepala tim audit Shinsegae terkait promosi 'Tank Day' yang bertepatan dengan tragedi Gwangju 1980.
- Promosi gelas reusable pada 18 Mei memicu kemarahan publik karena dianggap menghina korban pembantaian pro-demokrasi.
- Starbucks Korea akan menutup gerai setengah hari untuk pendidikan sejarah, sementara penjualan anjlok pasca skandal.

Polisi Korea Selatan akhirnya memanggil seorang eksekutif Shinsegae Group, operator Starbucks di negeri ginseng, sebagai saksi dalam penyelidikan promosi kontroversial 'Tank Day' yang dinilai menistakan tragedi berdarah 1980. Langkah ini menandai eskalasi hukum setelah gelombang protes publik dan aksi boikot melanda jaringan kopi terbesar di Korea itu.
Promosi yang menawarkan gelas reusable edisi khusus pada 18 Mei lalu itu berbenturan dengan peringatan ke-46 Pemberontakan Gwangju, sebuah gerakan pro-demokrasi yang berakhir dengan pembantaian 165 warga sipil—meski banyak pihak meyakini jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi. Keputusan untuk menggunakan tema 'tank' pada tanggal bersejarah tersebut langsung memicu kecaman luas, termasuk dari Presiden Lee Jae-myung yang menyebutnya sebagai 'tindakan tidak manusiawi dan memalukan'.
Shinsegae Group bergerak cepat dengan memecat CEO Korea mereka pada hari yang sama saat skandal meledak. Ketua grup, Chung Yong-jin, tampil di depan publik untuk membungkuk meminta maaf. Namun, langkah tersebut tidak meredakan amarah. Sebuah kelompok masyarakat sipil melaporkan Chung dan sejumlah petinggi lainnya ke polisi dengan tuduhan melanggar undang-undang tahun 2016 yang melarang penyebaran informasi palsu tentang peristiwa 1980, ditambah tuduhan pencemaran nama baik dan penghinaan.
Bagi pengamat bisnis, kasus ini menjadi pengingat betapa rentannya merek global terhadap kesalahan pembacaan konteks sejarah lokal. Shinsegae sendiri mengakui adanya serangkaian kelalaian, termasuk pejabat yang menandatangani persetujuan tanpa memeriksa file desain promosi. 'Kami berharap fakta dapat diklarifikasi dengan cepat dan transparan,' ujar juru bicara Shinsegae, seraya menegaskan kerja sama penuh dengan penyidik.
Di Indonesia, di mana Starbucks juga beroperasi melalui lisensi dengan Mitra Adiperkasa, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya sensitivitas budaya dan sejarah. Pasar kopi Tanah Air yang terus bertumbuh—dengan gerai Starbucks yang menjamur di kota-kota besar—menuntut kehati-hatian ekstra dalam setiap kampanye promosi. Kesalahan serupa di Indonesia, misalnya dengan mengaitkan promosi dengan peristiwa 1965 atau tragedi 1998, bisa berakibat fatal bagi reputasi merek.
Ke depan, langkah Shinsegae untuk mewajibkan pelajaran sejarah bagi seluruh karyawan—termasuk sang ketua—menunjukkan upaya perbaikan. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: akankah permintaan maaf dan edukasi cukup memulihkan kepercayaan publik? Atau akankah skandal ini meninggalkan luka permanen pada salah satu merek kopi paling ikonik di dunia?



