Cambodia Gencar Gaet Investor Korea Selatan untuk Bangun Industri Bernilai Tambah Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Deputy Prime Minister Sun Chanthol memimpin misi investasi ke Korea Selatan, menawarkan insentif bagi perusahaan otomotif, EV, dan kesehatan digital.
- Perusahaan Korea seperti Daejoo KC Group dan Kyungshin Co. telah beroperasi di Kamboja, membuka peluang integrasi rantai pasok regional.
- Kamboja berupaya mengurangi ketergantungan pada garmen dan manufaktur padat karya, beralih ke sektor bernilai tambah tinggi seperti komponen EV dan teknologi kesehatan.

Kamboja mempercepat upaya menarik investasi Korea Selatan di sektor komponen otomotif, sistem kendaraan listrik (EV), teknologi kesehatan, dan industri bernilai tambah tinggi lainnya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada garmen dan manufaktur padat karya yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung perekonomian.
Misi promosi investasi yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Sun Chanthol, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pertama Dewan Pembangunan Kamboja (CDC), berlangsung di Incheon pada 16 Juni 2026. Dalam roadshow investasi tersebut, Chanthol menegaskan kesiapan pemerintah Kamboja memberikan berbagai fasilitas kepada investor Korea. “Pemerintah Kerajaan Kamboja berkomitmen penuh dan siap menyambut serta memberikan segala kemudahan bagi investor Korea,” ujarnya.
Misi ini mempertemukan pejabat Kamboja dengan perusahaan Korea yang sudah beroperasi di sektor-sektor yang ingin diperluas, termasuk komponen otomotif, logistik, energi, konstruksi, dan kesehatan digital. Chanthol mengunjungi Daejoo KC Group, konglomerat Korea Selatan yang bergerak di bidang metalurgi, kimia, logistik, konstruksi, komponen otomotif, dan energi. Daejoo KC sudah memiliki dua anak perusahaan di Kamboja: Camko Motor yang merakit kendaraan Hyundai dan memproduksi wire harness untuk ekspor dengan menyerap hampir 500 tenaga kerja, serta Camko Infracore yang mengimpor dan mendistribusikan kendaraan Hyundai serta menyediakan jasa perawatan.
Kehadiran perusahaan seperti Daejoo KC dan Kyungshin—yang memproduksi wiring harness, konektor, dan sistem kelistrikan EV—memberikan landasan bagi Kamboja untuk berargumen bahwa negara tersebut mampu mendukung manufaktur yang lebih kompleks. Chanthol juga mengunjungi Incheon Baek Hospital untuk menjajaki transfer teknologi kesehatan digital dan pelatihan tenaga medis. Ia menyebut pendirian rumah sakit berstandar internasional sebagai prioritas utama pemerintah Kamboja.
Bagi Indonesia, langkah Kamboja ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah di tengah persaingan investasi regional. Indonesia sendiri tengah gencar mempromosikan hilirisasi industri dan pengembangan ekosistem EV, namun masih menghadapi tantangan dalam hal kesiapan tenaga kerja terampil dan infrastruktur pendukung. Keberhasilan Kamboja menarik investor Korea di sektor padat teknologi bisa menjadi tolok ukur bagi negara tetangga.
Misi ini juga menunjukkan pergeseran strategi Kamboja: tidak lagi sekadar mengejar pabrik baru, tetapi juga layanan bernilai tambah tinggi dan alih teknologi. Namun, tantangan besar masih membentang. Sektor elektronik otomotif dan komponen EV membutuhkan presisi manufaktur, kontrol kualitas ketat, pelatihan teknis, dan logistik yang andal. Sementara itu, kesehatan digital memerlukan tenaga medis berkualifikasi dan sistem manajemen rumah sakit yang mumpuni.
Dengan keberadaan perusahaan Korea yang sudah ada, Kamboja kini mendorong mereka untuk berekspansi ke sektor tambahan dan naik ke rantai nilai yang lebih tinggi. Pertanyaannya, apakah Kamboja mampu menyediakan tenaga kerja teknis, infrastruktur, dan industri pendukung yang dibutuhkan? Jawabannya akan menentukan apakah misi ini benar-benar membawa era baru industrialisasi atau hanya sekadar gebrakan diplomatik.



