Syarat Iran untuk Gencatan Senjata: Israel Harus Hengkang dari Lebanon
Baca dalam 60 detik
- Iran menuntut Israel menarik seluruh pasukannya dari Lebanon sebagai syarat utama kesepakatan gencatan senjata dengan AS, namun Israel dan AS menolak klausul tersebut.
- Ketidaksepakatan ini mengancam perjanjian yang rencananya akan ditandatangani Jumat di Swiss, setelah berbulan-bulan perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu pasokan energi global.
- Kesepakatan juga mencakup pembukaan Selat Hormuz, negosiasi nuklir Iran, dan potensi pencairan dana beku Iran senilai miliaran dolar, namun masih banyak detail yang belum jelas.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Selasa (17/6) menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat hanya akan berlaku jika Israel menarik seluruh pasukannya dari Lebanon. Syarat ini langsung ditolak oleh Israel dan tidak tercantum dalam rancangan perjanjian versi AS, membuka celah baru bagi gagalnya upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Perjanjian yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar ini rencananya akan ditandatangani pada Jumat (20/6) di resor Burgenstock, Swiss. Namun, perbedaan interpretasi antara para pihak terus menghantui proses perdamaian. Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menegaskan bahwa dokumen kesepakatan tidak memuat kewajiban penarikan Israel dari Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun telah menyatakan akan tetap mempertahankan pasukannya di Lebanon "selama diperlukan".
Ketegangan ini menempatkan Israel dalam posisi sulit. Di satu sisi, Netanyahu ingin terus menekan Hizbullah—yang telah meluncurkan roket ke Israel sejak pekan pertama perang—namun di sisi lain, ia tidak ingin merusak kesepakatan yang didukung oleh sekutu utamanya, AS. Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan hampir 4.000 orang, termasuk ratusan warga sipil, dan memicu pengungsian lebih dari satu juta jiwa. Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka mengkritik strategi Israel, menyebutnya "berlarut-larut" dan "terlalu banyak korban jiwa".
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas kawasan. Selat Hormuz—yang saat ini praktis ditutup akibat perang—merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas bumi ke Asia, termasuk Indonesia. Penutupan selat tersebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan komoditas di pasar global. Jika kesepakatan gagal, risiko gangguan pasokan energi akan kembali meningkat, berpotensi memperburuk inflasi di dalam negeri.
Pemerintah Lebanon, yang awalnya enggan dikaitkan dengan negosiasi AS-Iran, kini menyambut baik prospek gencatan senjata. Namun, perundingan langsung antara Israel dan Lebanon—tanpa keterlibatan Hizbullah—sejauh ini hanya menghasilkan gencatan senjata yang tidak pernah diimplementasikan di lapangan. Dua pejabat regional yang mengetahui isi kesepakatan sementara mengatakan bahwa Iran bersikeras memasukkan Lebanon ke dalam perjanjian pada hari-hari terakhir negosiasi. Menurut mereka, Israel harus meninggalkan hampir seluruh wilayah pendudukan di Lebanon, kecuali beberapa titik perbukitan di perbatasan.
Selain masalah Lebanon, masih banyak pertanyaan lain yang menggantung menjelang penandatanganan. Kesepakatan menjanjikan pembukaan segera Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Setelah itu, AS dan Iran akan memulai negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir Iran dan potensi pencabutan sanksi. Namun, mekanisme verifikasi dan penghancuran uranium yang diperkaya—yang diduga terkubur di situs nuklir yang rusak akibat serangan AS—masih belum jelas. Iran telah setuju untuk mendiskusikan "pengenceran atau pemindahan" uranium, tetapi kalangan garis keras di Teheran menentang pelepasan aset nuklir tersebut.
Trump sendiri menyatakan terbuka untuk mengirimkan kesepakatan ke Kongres AS untuk ditinjau. Namun, Partai Republik di Capitol Hill menginginkan lebih banyak informasi dan meragukan kemampuan perjanjian ini untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Dengan jadwal penandatanganan yang tinggal beberapa hari lagi, pertanyaan mendasar masih belum terjawab: akankah Israel benar-benar menarik diri dari Lebanon, atau justru perang akan kembali berkobar dengan skala yang lebih besar?



